Banjir Sumatra Barat: Bencana Lokal dalam Tekanan Global

Bencana, Nasional, Opini449 Dilihat

Oleh: Fini Ismail

Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Banjir bandang yang melanda Sumatra Barat dan sempat menjadi perhatian publik di berbagai media bukan sekadar peristiwa alam biasa. Di balik derasnya air yang menghantam permukiman warga, tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. Bencana ini menunjukkan bahwa isu lingkungan di Indonesia tidak lagi dapat dipahami hanya dari sudut pandang lokal. Ia telah menjadi persoalan intermestik—situasi ketika faktor domestik dan tekanan global saling berkaitan, memengaruhi, dan memperburuk satu sama lain.

Dari sisi domestik, penyebab banjir sebenarnya bukan hal baru. Alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, lemahnya pengawasan terhadap pembukaan lahan, serta tata ruang yang tidak tertata dengan baik membuat daya dukung lingkungan terus menurun. Hutan yang seharusnya menjadi kawasan resapan air justru menyusut dari tahun ke tahun. Akibatnya, ketika hujan deras turun, air tidak lagi terserap secara optimal, melainkan langsung mengalir ke wilayah permukiman sambil membawa lumpur, batu, dan batang kayu yang memperparah kerusakan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan lingkungan di tingkat nasional maupun daerah belum berjalan maksimal. Penegakan hukum terhadap perusakan hutan kerap lemah, sementara kepentingan ekonomi jangka pendek sering lebih diutamakan dibanding keberlanjutan lingkungan. Jika pola seperti ini terus dipertahankan, maka bencana serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terjadi, bahkan dengan dampak yang lebih besar.

Namun, menyalahkan faktor domestik saja tentu tidak cukup. Ada faktor global yang turut memperburuk keadaan, yakni perubahan iklim. Fenomena cuaca ekstrem yang makin sering terjadi merupakan dampak nyata dari pemanasan global. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat kini menjadi lebih sulit diprediksi, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang di banyak wilayah, termasuk Sumatra Barat. Artinya, meskipun pengelolaan lingkungan di dalam negeri diperbaiki, ancaman dari perubahan iklim global tetap akan membayangi.

Di sinilah terlihat bahwa bencana ini bukan semata akibat kesalahan lokal, melainkan bagian dari krisis lingkungan dunia yang lebih luas. Bahkan, tekanan global juga bekerja melalui mekanisme ekonomi. Permintaan internasional terhadap komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan hasil hutan lainnya mendorong ekspansi lahan secara besar-besaran. Aktivitas tersebut sering kali mengorbankan kawasan hutan dan ekosistem alami yang justru memiliki fungsi penting menjaga keseimbangan alam.

Dengan kata lain, apa yang terjadi di Sumatra Barat tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi global. Ketika pasar dunia membutuhkan komoditas tertentu, tekanan untuk meningkatkan produksi akan terasa hingga ke tingkat lokal. Eksploitasi sumber daya alam menjadi sulit dihindari, dan dampaknya kembali dirasakan masyarakat dalam bentuk bencana. Inilah wajah nyata persoalan intermestik: tarik-menarik antara kepentingan ekonomi, kebutuhan masyarakat lokal, dan tekanan global.

Sayangnya, respons terhadap bencana selama ini masih cenderung reaktif. Fokus utama sering kali hanya pada penanganan pascakejadian, seperti penyaluran bantuan, evakuasi korban, dan perbaikan infrastruktur. Langkah tersebut memang penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Tanpa upaya pencegahan yang serius, siklus bencana akan terus berulang.

Karena itu, pendekatan yang lebih komprehensif harus segera dilakukan. Dari sisi domestik, pemerintah perlu memperkuat kebijakan tata ruang, meningkatkan pengawasan terhadap pembukaan lahan, serta menegakkan hukum lingkungan tanpa kompromi. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar kesadaran menjaga alam semakin meningkat.

Di sisi lain, Indonesia harus aktif dalam kerja sama internasional terkait perubahan iklim. Komitmen mengurangi emisi, menjaga hutan, dan mendorong pembangunan berkelanjutan tidak boleh berhenti sebagai formalitas diplomatik semata. Indonesia juga harus memperjuangkan kepentingannya dalam sistem ekonomi global agar tidak terus berada pada posisi yang merugikan.

Banjir Sumatra Barat seharusnya menjadi momentum refleksi bagi semua pihak. Bahwa bencana bukan hanya soal faktor alam, melainkan hasil dari berbagai keputusan manusia, baik di tingkat lokal maupun global. Cara pandang yang lebih luas sangat diperlukan agar solusi yang diambil tidak parsial, melainkan mampu menjawab kompleksitas persoalan yang ada.

Pada akhirnya, memahami bencana sebagai isu intermestik membantu kita menyadari bahwa masalah lokal hampir selalu memiliki dimensi global. Karena itu, penyelesaiannya pun harus melibatkan keduanya. Jika tidak, maka setiap upaya yang dilakukan hanya akan menjadi solusi sementara. Banjir di Sumatra Barat bukan sekadar tragedi musiman, tetapi peringatan keras bahwa hubungan antara manusia, lingkungan, dan sistem global harus dikelola dengan lebih bijak. Jika diabaikan, maka bukan tidak mungkin bencana serupa akan terus datang dengan dampak yang semakin luas dan semakin menghancurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *