POSTTIMUR.COM, TERNATE- Insiden kebakaran yang melanda gedung SMAN 7 Kota Ternate di Kelurahan Takofi, Kecamatan Moti, pada Senin malam (5/5) sekitar pukul 23:00 WIT, menuai sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari pemerhati pendidikan dan warga Moti, Yusri A. Boko, yang menilai Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) kurang serius dalam merespons peristiwa tersebut.
Menurut Yusri, respons yang hanya sebatas menurunkan tim sarana dan prasarana (sarpras) untuk mengidentifikasi kerugian material belum cukup. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar persoalan fisik bangunan yang terbakar, melainkan juga menyangkut kondisi psikologis guru, siswa, dan masyarakat sekitar.
“Ini bukan hanya kerugian material, tetapi juga ujian mental bagi sekolah. Guru dan siswa membutuhkan kehadiran Kadikbud secara langsung sebagai bentuk dukungan moral,” ujar Yusri.
Ia menyayangkan belum adanya kunjungan langsung dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara ke lokasi kejadian. Padahal, menurutnya, kehadiran pimpinan daerah sangat penting untuk memberikan penguatan kepada para guru dan siswa yang terdampak.
“Secara psikologis, mereka butuh sandaran. Mereka ingin merasa diperhatikan, merasa memiliki dan dimiliki oleh pemerintah. Kehadiran Kadikbud itu penting untuk memulihkan semangat mereka,” lanjutnya.
Yusri juga menyinggung alasan geografis yang kerap dijadikan kendala. Ia menilai alasan tersebut tidak relevan, mengingat akses ke Kecamatan Moti relatif terjangkau.
“Moti hanya sekitar satu setengah jam menggunakan speedboat. Jangan jadikan rentang kendali sebagai alasan. Banyak agenda Dikbud di daerah lain yang lebih jauh tetap dikunjungi,” tegasnya.
Sebagai warga sekaligus pemerhati pendidikan di Moti, Yusri mendesak agar Kadikbud segera turun langsung ke SMAN 7. Ia menilai, jika pemerintah serius berbicara soal pemerataan pendidikan, maka perhatian terhadap sekolah-sekolah di wilayah kepulauan seperti Moti harus menjadi prioritas.
“Ini bukan tentang pencitraan atau viralitas. Di SMAN 7 mungkin tidak ada kamera seperti di sekolah lain, tapi ini soal duka dan kemanusiaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya ruang komunikasi seperti program “Chatay1st” yang seharusnya menjadi wadah aspirasi guru. Namun, menurutnya, suara dari sekolah yang sedang mengalami musibah justru belum mendapat respons maksimal.
“Ada ratusan siswa, puluhan guru, dan masyarakat yang ikut merasakan kehilangan. Yang terbakar bukan hanya gedung, tapi juga harapan. Mereka ingin tetap belajar, tapi trauma dan kehilangan jauh lebih besar,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Yusri mengingatkan bahwa esensi kepemimpinan terletak pada kehadiran di saat masyarakat membutuhkan.
“Logika kepemimpinan itu sederhana: hadir saat mereka butuh, bukan saat kita membutuhkan mereka. Tidak ada ruginya Kadikbud datang ke SMAN 7. Seperti kisah Umar bin Khattab yang memikul gandum sendiri untuk rakyatnya yang kelaparan,” tutupnya. (*)










