Babari: Modal Sosial yang Menjaga Harmoni di Desa Tawa

Daerah, Ekonomi, Opini, Sosial837 Dilihat

Oleh: M. Julmi Nurdin

Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun

Di tengah keberagaman yang sering kali dipandang sebagai tantangan, masyarakat Desa Tawa, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, justru menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan yang mempererat hubungan sosial. Desa yang dihuni oleh masyarakat dari etnis Makean dan Galela ini menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam suasana yang harmonis, damai, dan penuh rasa persaudaraan.

Salah satu faktor utama yang menjaga keharmonisan tersebut adalah kuatnya modal sosial yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Interaksi yang berlangsung selama bertahun-tahun telah melahirkan perpaduan nilai, kebiasaan, dan tradisi dari kedua etnis tersebut. Perbedaan identitas budaya tidak menjadi penghalang, melainkan melebur menjadi kesepakatan sosial yang diterima bersama dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, masyarakat Desa Tawa mengenal istilah Babari, sebuah nilai yang menggambarkan semangat gotong royong, saling membantu, dan berbagi beban dalam berbagai aspek kehidupan. Babari bukan sekadar tradisi, tetapi telah menjadi prinsip hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika ada warga yang menggelar pesta pernikahan, membangun rumah, maupun menghadapi musibah dan kedukaan, masyarakat akan datang secara sukarela untuk memberikan bantuan, baik berupa tenaga, pikiran, maupun dukungan moral.

Menariknya, meskipun Desa Tawa dihuni oleh dua etnis yang berbeda, batas-batas identitas tersebut semakin memudar melalui interaksi sosial yang intens dan praktik perkawinan antar-etnis. Hubungan kekerabatan yang terjalin membuat masyarakat tidak lagi memandang diri mereka berdasarkan perbedaan suku, melainkan sebagai bagian dari satu komunitas yang memiliki tujuan dan kepentingan bersama.

Nilai Babari mengajarkan bahwa kesulitan yang dialami seseorang merupakan tanggung jawab bersama. Filosofi “satu susah, semua susah” menjadi landasan moral yang memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Dalam perspektif pembangunan, nilai ini merupakan aset sosial yang sangat berharga karena mampu menciptakan kepercayaan, kerja sama, dan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan kolektif.

Di era modern yang cenderung mendorong individualisme, keberadaan Babari di Desa Tawa menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial yang dimiliki masyarakat. Modal sosial seperti inilah yang menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan yang harmonis, inklusif, dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, Babari tidak hanya perlu dipertahankan sebagai warisan budaya lokal, tetapi juga perlu dijadikan inspirasi dalam membangun masyarakat yang lebih solid di tengah keberagaman. Desa Tawa telah membuktikan bahwa persatuan tidak lahir dari kesamaan identitas, melainkan dari kesediaan untuk saling membantu, menghargai, dan hidup bersama dalam semangat kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *