Kodefikasi Kebudayaan: Dari Penciptaan Menuju Akumulasi

Nasional, Opini, Sosial41 Dilihat

Oleh: Ridwan Saban

Koordinator Forum Studi Anak Sastra Maluku Utara 

Pertanyaan tentang apa itu kebudayaan telah memunculkan perdebatan teoritis. Perdebatan tersebut kemudian dijawab melalui berbagai pendekatan saintifik maupun lewat pengalaman historis. Meskipun perdebatan tentangnya begitu alot dan krusial, satu hal yang tidak dapat disangkal adalah kebudayaan merupakan suatu common sense yang muncul sebagai akibat dari praksis tindakan manusia untuk mengomunikasikan maksud serta tujuan masing-masing, yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma menjadi suatu pikiran objektif (communal sense).

Dalam konteks inilah kebudayaan dipandang sebagai verstehen (pemahaman kolektif) yang memungkinkan suatu kelompok masyarakat dapat mengatur aktivitas dan interaksi tanpa saling bersinggungan. Sialnya, kebudayaan kerap diperlakukan sebagai komoditas. Ia direduksi dari kehidupan manusia melalui kodifikasi, kemudian dipaksakan suatu pemaknaan baru dan transformatif. Di sinilah letak paradoksnya.

Kebudayaan adalah yang telah diciptakan, dibangun, dan dicapai oleh manusia sepanjang perjalanan sejarahnya. Mulanya, alam menyediakan berbagai kebutuhan manusia, baik kebutuhan untuk bertahan hidup maupun kebutuhan untuk menciptakan “kebudayaan” (tradisi dan ritual-ritual). Kemudian, manusia mulai menyiasati semua hal itu dengan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkannya dapat bertahan hidup.

Tetapi, sejak manusia mulai menggunakan perkakas untuk memudahkan mereka memperoleh makanan, pakaian, dan mempersenjatai diri, maka sejak saat itu penciptaan dan akumulasi budaya dimulai, yaitu penciptaan dan akumulasi semua jenis pengetahuan dan keterampilan dalam upaya “untuk menjinakkan hukum alam yang dianggap tidak stabil”.

Ketika kita berbicara tentang budaya yang diakumulasi oleh generasi masa lalu, kita terutama merujuk pada akuisisi materialnya dalam bentuk perkakas, mesin, bangunan, monumen, dan sebagainya. Apakah ini budaya? Tidak diragukan lagi, ini adalah budaya, atau endapan materialnya, kebudayaan material.

Kebudayaan ini menciptakan, di atas fondasi alam, latar belakang mendasar bagi kehidupan kita, keberadaan kita sehari-hari, dan kreativitas kita.

Tetapi, bagian yang paling bernilai dari kebudayaan adalah endapannya dalam kesadaran manusia itu sendiri: metode, tradisi, keterampilan, dan kemampuan yang kita peroleh, yang tumbuh dari semua kebudayaan material sebelumnya dan, sembari bertumpu padanya, terus membangunnya.

Maka, kita sekalian akan menganggapnya sebagai aksioma bahwa kebudayaan tumbuh dari perjuangan manusia dengan alam untuk eksistensinya, untuk memperbaiki kondisi kehidupan, dan untuk meningkatkan kekuatannya. Tetapi, di atas landasan inilah kelas-kelas juga tumbuh.

Dalam proses beradaptasi dengan alam, dalam pergulatannya melawan kekuatan-kekuatan yang tidak bersahabat, masyarakat manusia berkembang menjadi sebuah organisasi kelas yang kompleks. Struktur kelas masyarakatlah yang paling menentukan isi dan bentuk sejarah manusia, yakni relasi-relasi material dan refleksi ideologisnya. Dengan mengatakan ini, kita juga mengatakan bahwa kebudayaan historis memiliki karakter kelas.

Masyarakat budak, masyarakat feodal, dan masyarakat borjuis telah melahirkan budaya yang sesuai dengannya. Di berbagai tahapan sejarah, ada budaya yang berbeda pula, dengan beragam bentuk transisi.

Masyarakat historis adalah organisasi eksploitasi manusia atas manusia. Kebudayaan melayani organisasi kelas masyarakat. Masyarakat yang eksploitatif melahirkan kebudayaan yang eksploitatif. Namun, apakah ini berarti bahwa kita menentang semua budaya masa lalu?

Kita sungguh dihadapkan dengan sebuah kontradiksi yang mendalam. Segala sesuatu yang telah dimenangkan, diciptakan, dan dibangun melalui upaya manusia dan yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan manusia, semua itu adalah budaya.

Namun, karena kita berurusan dengan manusia sosial dan bukan manusia individual; karena budaya pada hakikatnya adalah sebuah fenomena sosio-historis; karena masyarakat historis adalah dan akan terus menjadi masyarakat kelas, maka budaya berperan sebagai instrumen fundamental penindasan kelas.

Marx mengatakan, “Ide-ide yang dominan pada suatu zaman adalah ide-ide kelas penguasa pada zaman tersebut.” Pernyataan ini juga berlaku untuk budaya secara keseluruhan.

Kendati demikian, kita harus mengatakan kepada kelas yang tertindas, “Kalian harus menguasai semua kebudayaan masa lalu, yang baik dan bijaksana. Jika tidak, kalian tidak akan bisa membangun kehidupan sosial budaya yang baik dan benar.”

Bagaimana hal ini dapat dipahami?

Banyak orang tersandung pada kontradiksi ini karena mereka mendekati konsep masyarakat kelas secara dangkal dan semi-idealis, dan lupa bahwa pada dasarnya masyarakat adalah organisasi produksi. Setiap masyarakat kelas berkembang menurut cara-cara tertentu untuk bergulat dengan alam, dan cara-cara ini telah berubah tergantung pada perkembangan teknologi.

Pertanyaannya kemudian: mana yang lebih fundamental, organisasi kelas masyarakat atau kekuatan produktifnya?

Jelas, kekuatan produktif. Karena di atas basis kekuatan produktiflah, pada tingkat tertentu dari perkembangannya, kelas-kelas berevolusi dan mengambil bentuk. Dalam kekuatan produktiflah terekspresikan kemampuan ekonomi manusia dalam bentuk materialnya, kemampuan historisnya untuk mempertahankan keberadaannya.

Kelas-kelas tumbuh di atas fondasi yang dinamis ini, dan hubungan timbal balik mereka menentukan karakter kebudayaan.

Dan oleh karena itu, sehubungan dengan teknologi di atas segalanya, kita harus bertanya pada diri kita sendiri: apakah teknologi hanya merupakan instrumen penindasan kelas?

Cukup dengan mengajukan pertanyaan seperti itu, kita bisa langsung menjawab: tidak. Teknologi adalah pencapaian dasar umat manusia. Meskipun hingga kini teknologi memang berfungsi sebagai instrumen eksploitasi, namun pada saat yang sama ia juga menjadi syarat dasar bagi pembebasan kaum yang terhisap.

Mesin mencekik kaum budak-upahan. Namun, kaum budak-upahan hanya dapat dibebaskan melalui mesin. Di sinilah letak akar dari seluruh permasalahan.

Jika kita tidak lupa bahwa kekuatan pendorong proses sejarah adalah pertumbuhan kekuatan produktif yang membebaskan manusia dari kekuatan alam, maka kita akan memahami bahwa kaum proletar harus menguasai seluruh akumulasi pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh umat manusia sepanjang sejarah untuk membangkitkan dirinya sendiri dengan membangun kembali kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip solidaritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *