Breaking News

Belajar Sains dari Serangga, Tim PKM FKIP Unkhair Perkuat Keterampilan Proses Sains Siswa SD

Oleh Riski Mansur - 14 Okt 2026 WIT

TERNATE, POSTTIMUR.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate menghadirkan pengalaman belajar sains yang menarik dan kontekstual bagi siswa sekolah dasar melalui kegiatan observasi serangga di lingkungan sekolah.

Kegiatan bertajuk “Penguatan Keterampilan Proses Sains Siswa SD melalui Pembelajaran Serangga Berbasis Observasi di Lingkungan Sekolah” itu dilaksanakan di SD Negeri 48 Kota Ternate, Jumat (25/9/2026), dengan melibatkan 22 siswa kelas V.

Tim PKM tersebut diketuai oleh WD. Syarni Tala, S.Si., M.Sc., bersama anggota tim, yakni Dr. Chumidach Roini, S.Pd., M.Si., Dr. Bahtiar, S.Pd., M.Si., Dr. Ade Haerullah, S.Pd., M.Pd., Yusmar Yusuf, S.Pd., M.Kes., Ningsi Saibi, S.Pd., M.Si., dan Magfirah Rasyid, S.Pd., M.Pd.

Program ini bertujuan memperkuat keterampilan proses sains sekaligus meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui pembelajaran berbasis observasi langsung. Lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai sumber belajar agar siswa memperoleh pengalaman yang lebih bermakna.

Siswa SD Negeri 48 Ternate belajar sains melalui observasi serangga bersama Tim PKM FKIP Unkhair.

Ketua Tim PKM, WD. Syarni Tala, menjelaskan bahwa serangga dipilih sebagai objek pembelajaran karena mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Menurutnya, meskipun keberadaan serangga sangat dekat dengan kehidupan siswa, manfaat ekologisnya belum tentu dipahami dengan baik. Sebagian serangga bahkan kerap dianggap sebagai organisme pengganggu, padahal banyak di antaranya berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

“Serangga memang berukuran kecil, tetapi memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan. Ada serangga yang membantu penyerbukan tumbuhan, berperan dalam penguraian bahan organik, dan menjadi bagian penting dari rantai makanan. Karena itu, melalui kegiatan ini kami ingin mengajak siswa untuk mengenal, memahami, dan menghargai keberadaan serangga serta menjaga lingkungan tempat hidupnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengenalan serangga sejak usia sekolah dasar tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan tentang keanekaragaman makhluk hidup, tetapi juga menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

“Kami ingin siswa memahami bahwa tidak semua serangga harus ditakuti atau dibasmi. Serangga memiliki perannya masing-masing dalam ekosistem. Dengan mengenal serangga secara langsung, siswa diharapkan dapat mengembangkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap makhluk hidup, serta kemampuan berpikir ilmiah melalui kegiatan pengamatan sederhana,” tambahnya.

Siswa Diajak Mengamati dan Mengidentifikasi Serangga

Dalam pelaksanaannya, kegiatan PKM menggunakan pendekatan partisipatif yang menempatkan siswa sebagai peserta aktif. Mereka tidak hanya menerima penjelasan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam pengamatan serangga di lingkungan sekolah.

Pembelajaran difokuskan pada lima aspek keterampilan proses sains, yaitu mengamati, mengidentifikasi, mengelompokkan, memprediksi, dan menyimpulkan.

Pada tahap pengamatan, siswa diarahkan untuk memperhatikan keberadaan serta karakteristik serangga di sekitar sekolah. Selanjutnya, mereka belajar mengidentifikasi ciri-ciri utama serangga, seperti tubuh yang terdiri atas kepala, toraks, dan abdomen, serta memiliki tiga pasang kaki.

Siswa juga diajak mengelompokkan serangga berdasarkan jenis makanannya, seperti pemakan tumbuhan, pemakan hewan lain, pemakan segala, dan pemakan nektar.

Untuk melatih kemampuan memprediksi, siswa diberikan pertanyaan mengenai kemungkinan perubahan yang terjadi apabila kondisi lingkungan serangga berubah, misalnya ketika sumber makanan berkurang atau tumbuhan berbunga tidak lagi tersedia.

Sementara itu, kemampuan menyimpulkan dilatih dengan mengarahkan siswa merumuskan kesimpulan berdasarkan informasi dan hasil pengamatan yang telah diperoleh.

Seluruh kegiatan observasi didukung dengan penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dirancang sebagai panduan pembelajaran. Melalui LKPD tersebut, siswa diarahkan melakukan pengamatan secara sistematis, mengolah informasi, dan menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep IPA yang dipelajari.

Kegiatan berlangsung selama empat jam, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIT, dan mendapat sambutan antusias dari para siswa. Hal itu terlihat dari keaktifan mereka saat mengamati berbagai jenis serangga, mengikuti diskusi, serta mengajukan pertanyaan kepada tim PKM.

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan selama kegiatan turut mendorong siswa berpikir kritis mengenai karakteristik serangga, sumber makanan, dan perannya bagi lingkungan.

Setelah observasi, tim PKM memberikan penguatan materi mengenai ciri-ciri serangga, pengelompokan berdasarkan jenis makanan, serta perannya dalam ekosistem. Siswa diperkenalkan pada serangga seperti kupu-kupu dan lebah yang membantu proses penyerbukan tumbuhan, serta berbagai serangga lain yang berkontribusi terhadap keseimbangan lingkungan.

Suasana pembelajaran berlangsung interaktif dengan keterlibatan siswa dalam penyampaian materi dan sesi diskusi.

Sekolah Apresiasi Pembelajaran Berbasis Observasi

Kegiatan PKM ini mendapat dukungan dari Kepala SD Negeri 48 Kota Ternate, Maryam Marasabessy, S.Pd.I. Ia menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut karena materinya berkaitan langsung dengan pembelajaran siswa kelas V, khususnya tema Harmoni dalam Ekosistem pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dalam Kurikulum Merdeka.

“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Khairun ini. Materi yang diberikan sangat relevan dengan pembelajaran IPAS siswa kelas V, khususnya tema Harmoni dalam Ekosistem. Melalui kegiatan observasi serangga, siswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari materi yang ada dalam kurikulum secara langsung melalui lingkungan di sekitar mereka,” ujarnya.

Menurut Maryam, pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dapat membantu mereka memahami materi dengan lebih baik karena tidak hanya mengandalkan penjelasan di dalam kelas.

“Kegiatan seperti ini sangat baik karena siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak mengamati dan memahami objek yang dipelajari secara langsung. Kami melihat siswa sangat antusias dan aktif mengikuti kegiatan. Harapannya, pengalaman belajar seperti ini dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa sekaligus menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan,” tambahnya.

Dukungan pihak sekolah turut menunjang pelaksanaan kegiatan, termasuk melalui pemanfaatan ruang kelas dan lingkungan sekolah sebagai tempat pembelajaran.

Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar Sains

Melalui kegiatan PKM ini, tim dosen FKIP Universitas Khairun berupaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sains.

Pembelajaran berbasis observasi serangga menunjukkan bahwa lingkungan sekolah berpotensi menjadi sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan proses sains siswa. Dengan mengamati objek nyata di sekitar mereka, siswa memperoleh kesempatan memahami konsep IPA melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui penjelasan guru atau gambar dalam buku pelajaran.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran IPAS yang dikembangkan oleh guru, khususnya dalam mengintegrasikan pengamatan lingkungan dengan penguatan keterampilan proses sains.

Lebih dari sekadar mengenalkan berbagai jenis serangga, kegiatan tersebut juga membawa pesan tentang hubungan antara manusia, makhluk hidup, dan lingkungan. Meskipun berukuran kecil, serangga memiliki peran penting bagi kehidupan.

Melalui kegiatan pengamatan sejak dini, siswa diharapkan semakin memahami pentingnya keberadaan serangga dan tumbuh menjadi generasi yang memiliki rasa ingin tahu, berpikir ilmiah, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan. Upaya menjaga keseimbangan alam pun dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni sekolah.

Reporter: Riski

Back To Top