Aku Lupa Jalan Pulang; Apakah Aku Harus Beragama Islam?

Opini1748 Dilihat

Foto : Kasman J. Momole

Oleh: Kasman J. Momole

Ketua Bidang Pemberdayaan Umat (Kabid PU) HMI Cabang Ternate

Perjalanan kita didalam dunia ini perhentiannya. Dan sesudah kita pergi nanti, dunia ini sepeninggal suatu waktu akan sampai pula pada perhentiannya. Hubungan dengan manusia, kebebasan dikatakan bersangkutan dengan (a) perbuatan atau (b) pilihan hendaknya diingat, kedua hal di atas tidak sepenuhnya sama, kecuali apabilah setiap pilihan menyangkut suatu perbuatan. Sudah tentuh apabila kita mengatakan bebas berbuat.

Tiba waktunya kini kita telah beralih kepada pikran-pikiran yang sebenarnya yang secarah berulang-ulang sudah kita hayati. Orang  mungkin menjadi jemu terhadap kecaman dan usaha mencari-cari yang tiada putus-putusnya, barang kali akan terpikir, “dapatkah kita pernah mengetahui sesuatu’? atau siapakah aku ini? sehingga dapat mencoba memahami kenyataan yang begitu luas.

Manusia lahir dan mati, dan selama masa hidupnya ia terus menerus terkena oleh perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh pengaruh objek-objek fisik terhadap dirinya. Tetapi bersamaan dengan sisi manusia yang semacam ini, orang juga dapat menunjukkan kecerdasan pikirannya. Hal ini mungkin kita memperoleh pengetahuan, yang juga dapat diperoleh orang-orang lain dan mungkin pulah mengadakan pilihan secarah bebas. “Ruh dunia karenanya dapat dicari, baik dialam maupun dalam pikiran manusia sendiri. Seorang filsuf Novalis menyatakan bahwa ‘jalan misteri itu mengarah kedalam batin’. Dia menyatakan bahwa manusia menyimpan seluruh alam raya itu dalam dirinya sendiri dan dapat paling dekat menyentuh misteri itu dengan melangkah masuk kedalam dirinya sendiri”

Aku Lupa dengan jalan sendiri, arah mana yang harus diikuti, aku pergi melihat hanya satu jalan, penuh dengan hutan rimbah, diperjalanan sebagai orang musafir, aku berteduh dibawah batuh besar. 5 tahun ku belajar ilmu filsafat telah mengalami keraguan sehingga mosi tidak percaya terhadap Tuhan, ini adalah pilihan ku. Disini aku pelajari bahwa sumber pengetahuan adalah “keraguan” sejalan dengan Rene Decartes setelah mempelajari filsafat, dia semakin yakin akan kebodohannya sendiri.

Dari pengetahuan yang bebas ini, kita lupa akan jalan pulang yang tadi dikenal satu jalan kini menjadi banyak jalan, karena telah mengalami ‘metamaofosis’ lebih dikenal dengan teori ‘evolusi’ dalam perjalanan hidup. Apakah penting aku beragama? Agama banyak ragamnya. Setelah agama hanya semata-mata ibadah dan upacara yang dilakukan didalam waktu yang tentu dengan beberapa rukun dan syarat yang tertentu.

Dalam pada itu, ilmu pengetahuan manusia bertambah naik pula, yang terbit dari penyilidikan akal dan pikiran yang tiada mau puas. Jika terdiri suatu barang dihadapan pancaindra, maka timbullah pertnyaan: Apkah? Berapkah? Apa sebabnya  begitu dari nama asalnya? Kalau dibuat begini apa hasilnya, dan kalau tidak begini apa salahnya.? Lantara itu tiap-tiap agama selalu terbentur dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dalam masa yang tidak lama, tentu, segalah agama, upacara, dan pujaan yang tidak bersetuju dengan ilmu (wetenschap) tidak akan kuat urat tunggangannya lagi.

Selain dari ilmu pengetahuan membongkar segalah agama yang karut-marut, juga menimbulkan alasan yang, kuat bahwa Yang Mahakuasa atas alam itu memang ada, memang wujud dan tunggal. Sebab itu teranglah bahwa segalah agama yang tulen, mesti sesuai dengan ilmu yang tulen, dan agama yang tidak tulen, yang hanya terbit dari bua pikiran manusia yang karut, mesti tersingkir dan hapus dari muka bumi ini.

Akal sudah tahu bahwa banyak benar agama yang memaksa orang mesti percaya saja, tidak boleh membantah, padahal ilmu menentang paksaan, sebab ilmu tidak mengakui barang sesuatu belum dicobah, dialami dan dibuktikan.

Untuk menelusuri agama Islam kita harus mencoba mengkajia Islam dari maknanya dalam al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa Islam bukanlah semata-mata nama sebuah agama, yang dibawah oleh nabih Muhammad Saw. Seperti yang telah disebut di atas, melainkan Islam merupakan ajaran Tuhan yang universal, disampaikan kepada seluruh makhluk dengan perantara para Nabi dan Rasul, sesuai dengan tempat dan masa tertentu. Islam sebagai ajaran yang universal diterjemahkan sebagai sikap pasrah dan tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Al-Qur’an juga menginformasikan bahwa seluruh nabi mengajarkan Islam. Nabi Nuh mengajarkan Islam. (QS. Yunus [10]: 72) Nabi Ibrahim pun membawa ajaran Islam dan mewariskan ajaran itu kepada anakturunannya, termasuk kepada anak turunan Ya’kub atau Isra’el (QS. Al-Bakarah [2]:130-132) di antara anak Ya’kub itu adalah Yusuf, yang berdo’a kelak akan mati sebagai seorang muslim (seorang “yang berislam”)

Sunggu tepat, apa yang dikatakan oleh Ibn Taymiyyah seperti yang dikutip Cak Nur, agama semua Nabi adalah satu, Yaitu Islam, meskipun syar’iatnya berbedah-bedah sesuai zaman dan tempat hkusus masing-masing nabi Itu Ibn Taymiyyah juga menulisakan sebua hadits nabih yang menyatakan bahwa, para Nabi itu bersaudarah satu ayah lain ibu. Jadi agama mereka adalah satu. Yaitu ajaran yang beribadat hanya kepada Allah, Tuhan yang maha Esa yang tiada padanan baginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *