Muchsin Saleh Abubakar, SH. MH. Apresiasi Kemah Moderasi Beragama Dalam Bingkai Kebhinekaan

Nasional1084 Dilihat

Foto : Peserta Kemah Moderasi Beragama Dalan Bingkai Kebhinekaan

POSTTIMUR.com, JAKARTA, – Direktorat Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, menggelar kegiatan Dialog Organisasi Kemasyarakatan Islam Tingkat Nasional, bertempat di The Highland Park Resort – Hotel Bogor. Kegiatan yang bertajuk “Kemah Moderasi Beragama Dalam Bingkai Kebhinekaan” ini digelar sejak Senin 29 November hingga Rabu 01 Desember 2021 kemarin.

Saat ditemui tim POSTTIMUR.com, di The Sultan Hotel, Kamis (2/12), malam tadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Muda Islam Indonesia (GMII), Muchsin Saleh Abubakar, SH. MH, menyampaikan bahwa untuk menjaga dan merawat kerukunan antar umat beragama, maka kegiatan seperti ini sangat diharapkan untuk dianjurkan secara sustainable dan breakdown ke gres road.

“Hal ini dikarenakan kondisi umat dan keberagaman saat ini trendnya ada pasang surut dalam pemaknaan, ada juga ketidak nyamanan bahkan terkadang ada gesekan, sehingga di era digitalisasi global ini, moderasi beragama yang digagas Menteri Agama dan jajarannya tersebut, adalah merupakan sejumput asa memberi suatu wadah atau payung besar, serta branding yang namanya moderasi guna mencapai harmoni sehingga perbedaan agama tidak membuat kita jauh dari prinsip Kebhinekaan,” ungkapannya.

Foto : Muchsin Saleh Abubakar, SH. MH, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Muda Islam Indonesia (GMII)

Muchsin, yang juga sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Maluku Utara tersebut, mengatakan kegiatan yang kemudian di gelar oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, ini merupakan sebuah wujud nyata dimana Kemenag sendiri, berupaya keras untuk melanjutkan cita-cita luhur para pejuang bangsa ini, yakni narasi Bihneka Tunggal Ika

Selaku Ketua Umum GMII, saya memberikan apresiasi atas edukasi cerdas guna membumikan kalamullah “lakum dinikum waliaiddin”, melalui implementasi moderasi beragama, sehingga capaian Juklak bukan juknis merajut Bihneka Tunggal Ika, yang bermartabat adalah sebuah keniscayaan hakiki.

Menurut Muchsin, agama itu indah agama itu cinta, dan perbedaan itu rahma hingga kenapa perbedaan keyakinan justru membuat kita terpecah belah.??. Sehingga saya berharap semua komponen umat untuk kita sama-sama menjaga hubungan yang ada dalam wadah bingkai moderasi beragama saat ini,” terangnya.

“Olehnya itu, sikap yang kemudian diambil oleh Kemenag RI dibawah kepemimpinan, Yaqut Cholil Qoumas atau sering disapa Gus Yaqut, merupakan sikap yang sangat humanis dan elegan dalam menjaga persatuan dan kesatuan anak bangsa dalam Balutan NKRI, yang notabene rakyatnya memiliki keragaman primordial keyakinan, namun tetap satu dalam bingkai Kebhinekaan.

Ia pun mengutip definisi Bhinneka Tunggal Ika, dalam kitab Sutasoma karang Empu Tantular dimasa Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke–14 Masehi. Dimana dalam kitab ini, definisi Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan dalam hal kepercayaan dan keanekaragaman agama di kalangan masyarakat Majapahit sehingga para leluhur kita jauh-jauh hari telah menancapkan tatanan nilai moderasi pada kita semua, hanya kita sering lupa dan abai atas landasan pijakan mulia dari para founding father kita.

Dari asal literatur kata Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana dirinci dalam kitab Sutasoma yakni, Bhinneka artinya Beragam, Tunggal artinya Satu, Ika artinya Itu, yang kemudian Bhinneka Tunggal Ika secara harfiah diartikan bercerai tapi satu (berbeda tapi tetap satu).

“Semboyan ini kemudian digunakan sebagai ilustrasi identitas alami Indonesia, yang dibangun secara sosial budaya berdasarkan keragaman, kemajemukan, serta keyakinan beragama di bangsa yang kita cintai bersama ini.

Jika dilihat dari kitab Sutasoma ini kalimat Bhinneka Tunggal Ika, dalam definisinya tidak berbeda jauh dengan apa yang digariskan dalam Kalamullah yakni “Lakum dinukum waliyaddin” (untukmu agamamu dan untukku agama ku). Dalam ayat ini telah jelas mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan, terutama perbedaan dalam beragama, serta landasan ayat ini pula sehingga kegiatan yang berskala nasional ini terwujud atas kerja keras panitia siang dan malam demi tata nilai dan tatalaksana melalui karpet merah menuju jalan damai yg namanya moderasi beragama.

“Kehadiran 6 agama dalam giat kemarin islam hindu bidha katolik confuthu protestan dan agama SIK ini juga manis dalam satu giat maslahat moderasi”.

Sementara di sisi lain para pemateri juga terpilih dari tokoh-tokoh kredibel baik dibidang ekonomi budaya dan keagamaan, dimana penyampaian materi-materi mereka telah menyadarkan kita, tentang nilai kemanusiaan itu jauh diatas segalanya, atau diatas kepentingan yang lain.

Muchsin mengaku sudah puluhan kali dirinya mengikuti kegiatan-kegiatan yang berskala lokal, nasional, bahkan internasional, baru kali ini nyali dan instingnya tertantang dan berkata inilah Islam yang melekat pada diri dan suri teladan yang Agung, yakni Habibana Muhammad Rasulillah SAW, yang penuh rahmah lil alamin, Insya Allah,” tutup mantan Manager Funding di salah satu BUMN Indonesia ini.

Foto : Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag, Saat Menutup Acara

Untuk diketahui pada sesi penutupan kegiatan tersebut, di tutup langsung oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, yakni Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag, mewakili Menteri Agama Republik Indonesia.

#tp/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *