Pace Mace Pu Tanah: Jaga Warisan, Tolak Tambang yang Merampas

Opini1332 Dilihat

Oleh: Asrul Maulana
Ketua Umum PK IMM Universitas Handayani Makassar

Tanah Papua bukan sekadar bentang alam yang memukau, bukan pula hanya deretan pulau dan laut biru yang memesona mata dunia. Tanah Papua adalah roh, identitas, dan rumah bagi masyarakat adat yang telah menjaganya sejak leluhur mereka pertama kali menjejakkan kaki di bumi cenderawasih.

Di Raja Ampat, keindahan itu bukan dongeng. Ia nyata: terumbu karang yang masih perawan, hutan lebat yang belum terjamah, dan suara burung cenderawasih yang menjadi nyanyian pagi di tengah damai. Namun, ancaman nyata mulai menggerogoti surga ini, datang dalam rupa rencana dan praktik pertambangan nikel.

Kita perlu bicara jujur. Pertambangan bukan hanya soal investasi atau janji-janji pembangunan. Ini adalah persoalan hak hidup, kedaulatan tanah, dan masa depan masyarakat adat. Ketika tanah dikoyak untuk kepentingan tambang, yang hilang bukan sekadar pohon atau bebatuan, melainkan bagian dari jiwa dan kehidupan orang Papua.

Kerap kali, proyek tambang dibungkus dengan narasi manis: menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, membangun infrastruktur. Tapi mari kita bertanya: berapa banyak dari itu yang benar-benar dinikmati oleh rakyat lokal? Apakah mama-mama Papua yang berdagang di pasar merasakan hasilnya? Apakah anak-anak di kampung terpencil mendapat akses pendidikan dan kesehatan yang lebih baik?

Lebih tragis lagi, kita sudah tahu seperti apa dampak ekologis dari pertambangan nikel di tempat lain di Indonesia. Pencemaran air, hutan yang rusak, laut yang mati, dan keanekaragaman hayati yang lenyap bukan lagi ancaman masa depan, itu sudah menjadi kenyataan pahit.

Baca Juga:

Papua: Kompas Utama Masuknya Freeport dan UU PMA di Indonesia

Hikmah Idul Adha: Menguak Simbol Spiritual di Balik Perjuangan 11 Masyarakat Adat dan Surga Alam di Pulau Raja Ampat

Raja Ampat bukan tempat yang layak untuk dijadikan korban berikutnya. Ini bukan hanya milik Papua, tapi warisan dunia. UNESCO telah mengakui nilai ekologisnya yang luar biasa. Jika rusak, dunia akan mencatatnya sebagai luka bersama tetapi yang akan paling menderita adalah masyarakat adat yang hidup dari tanah dan lautnya.

Pace, saudaraku, kita tidak anti pada kemajuan. Tapi jika yang disebut “kemajuan” justru menghancurkan hutan, mencemari laut, dan merampas tanah adat, maka itu bukan pembangunan. Itu adalah penjajahan dengan wajah baru. Kita sudah terlalu sering tertipu oleh janji-janji investasi yang menyisakan duka dan penyesalan.

Pace mace pu tanah. Jaga tanahmu. Jaga lautmu. Jaga warisanmu. Karena sekali tanah itu rusak, tak ada uang, tak ada tambang, yang bisa mengembalikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *