Maluku Halal Destination: Mimpi atau Kenyataan?

Opini795 Dilihat

Oleh: Siti Khoiriyah Hatala
Program Studi Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Ketika menyebut kata Maluku, bayangan yang muncul biasanya adalah laut sebening kaca, gugusan pulau yang memesona, dan keramahtamahan masyarakatnya. Tapi, pernahkah kita membayangkan Maluku sebagai destinasi wisata halal? Bukan hanya sebagai tempat indah, tapi juga ramah bagi wisatawan Muslim—dari aspek makanan, ibadah, hingga gaya hidup. Pertanyaannya, apakah ini sebuah kenyataan yang sedang kita bangun, atau sekadar mimpi di tengah tantangan infrastruktur dan minimnya dukungan ekosistem halal?

Potensi yang Terabaikan

Sebagai warga asli Maluku, saya menyaksikan sendiri bahwa nilai-nilai Islam begitu membumi dalam kehidupan masyarakat, mulai dari Ambon, Seram, hingga Tual. Masjid mudah ditemukan, dan kuliner khas seperti ikan bakar, papeda, serta sambal colo-colo umumnya berbahan halal. Artinya, fondasi untuk wisata halal sebenarnya sudah ada—hanya belum dioptimalkan.

Data dari Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam wisata halal. Sayangnya, Maluku belum masuk dalam radar utama pengembangan destinasi halal nasional. Padahal, peluangnya besar jika dikelola serius. Seperti kata pepatah, potensi saja tak cukup tanpa aksi nyata.

Tantangan Nyata di Lapangan

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tantangannya masih banyak. Akses ke destinasi wisata di Maluku belum sepenuhnya mudah. Rute penerbangan terbatas, dan transportasi laut masih belum nyaman bagi sebagian wisatawan. Di sisi lain, akomodasi seperti hotel dan penginapan umumnya belum dilengkapi dengan fasilitas ibadah seperti penunjuk arah kiblat atau informasi waktu salat.

Masalah lain adalah rendahnya kesadaran pelaku usaha kuliner terhadap pentingnya sertifikasi halal. Banyak rumah makan sebenarnya sudah menggunakan bahan halal, tapi belum memiliki sertifikat resmi karena kurangnya edukasi dan akses informasi. Hal ini membuat branding wisata halal di Maluku menjadi kurang kuat.

Baca Juga:

Dari Kritis Menjadi Apresiatif, Ada Apa dengan Cipayung Plus dan Pemkab Buru Selatan?

Pace Mace Pu Tanah: Jaga Warisan, Tolak Tambang yang Merampas

Ditambah lagi, belum ada regulasi daerah atau inisiatif terpadu dari dinas pariwisata untuk mengusung Maluku sebagai destinasi halal. Promosi masih terkesan jalan sendiri-sendiri, tanpa narasi yang utuh dan terarah.

Tanda-Tanda Harapan

Meski demikian, ada secercah harapan yang mulai terlihat. Beberapa homestay di Pantai Ora mulai menyediakan fasilitas ramah Muslim. Di Ambon, sejumlah restoran secara mandiri mulai mencantumkan label “halal”. Bahkan, komunitas muda aktif mempromosikan wisata Maluku melalui media sosial dengan narasi yang bersahabat terhadap nilai-nilai syariah.

Ini membuktikan bahwa arah menuju wisata halal sebenarnya sudah mulai ditempuh, meski masih terseok. Jika upaya-upaya kecil ini dikonsolidasikan, bukan tidak mungkin Maluku bisa menjadi destinasi halal yang sejajar dengan Lombok, Aceh, atau Sumatera Barat.

Kolaborasi adalah Kunci

Kunci dari semua ini adalah kolaborasi. Pemerintah daerah, pelaku usaha, kampus, dan masyarakat harus duduk bersama. Beberapa langkah awal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Pelatihan pemandu wisata berbasis nilai-nilai syariah
  • Fasilitasi sertifikasi halal bagi UMKM kuliner
  • Promosi digital yang menyasar wisatawan Muslim
  • Penyediaan fasilitas ibadah di lokasi wisata utama

Bukan Sekadar Mimpi

Jadi, apakah Maluku Halal Destination hanyalah mimpi? Bagi saya, ini adalah mimpi yang potensial—yang pelan-pelan mulai menemukan jalannya. Dengan komitmen, kolaborasi, dan pendekatan inklusif, kita bisa wujudkan Maluku sebagai wajah baru wisata halal di Indonesia Timur.

Yang perlu ditekankan: wisata halal bukan soal Arabisasi atau seragam syariat, melainkan soal menghadirkan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi wisatawan Muslim untuk menikmati keindahan Maluku tanpa harus meninggalkan nilai-nilai keyakinannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *