POSTTIMUR.COM, TERNATE- Di kaki Gunung Gamalama, seorang petani seledri bernama Halim Nurdin kini merasakan perubahan besar dalam hasil pertaniannya. Warga Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate ini berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan setelah memanfaatkan pupuk biokonversi dan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar kotoran ayam.
Sebelumnya, Halim mengaku hasil panen seledrinya kurang memuaskan. Tanaman yang dihasilkan tidak tumbuh maksimal, ukuran batang kecil, dan daun kurang lebat sehingga berdampak pada rendahnya harga jual di pasaran.
Perubahan mulai terjadi ketika ia mendapat informasi tentang pupuk biokonversi dan POC kotoran ayam melalui Penyuluh Pertanian Kelurahan Moya. Pupuk tersebut diproduksi bersama anggota kelompok tani di sekitar kandang ayam miliknya, melalui praktik lapangan yang didampingi Junior Agronomis dari PT Bio Agromitra serta PJI dari Wahana Visi Indonesia.
Awalnya, Halim sempat ragu beralih ke pupuk organik. Ia khawatir hasilnya tidak seoptimal pupuk kimia yang biasa digunakan. Namun dorongan untuk mencoba inovasi baru demi memperbaiki produksi membuatnya memutuskan menggunakan pupuk biokonversi dan POC tersebut.
Dengan mengikuti arahan penyuluh dan tim pendamping, Halim mulai mengaplikasikan pupuk biokonversi pada media tanam sebelum penanaman. Selanjutnya, POC kotoran ayam yang telah difermentasi disemprotkan secara rutin setiap minggu ke seluruh bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga permukaan tanah.
Beberapa minggu kemudian, perubahan signifikan mulai terlihat. Daun seledri tumbuh lebih hijau dan lebar, batang lebih kokoh, serta struktur tanah menjadi lebih gembur dan subur. Melihat hasil tersebut, Halim semakin percaya diri dan memperluas lahan budidayanya. Ia juga menambahkan penggunaan pupuk biogranul untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Hasil panen mulai dirasakan setelah kurang lebih tiga bulan. Dalam satu minggu, Halim dapat melakukan panen dua kali dengan hasil 50–60 ikat per sekali petik. Setiap ikat berisi lima tangkai dan dijual seharga Rp4.000 per ikat di Pasar Higienis Gamalama. Dari setiap panen, ia mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp200.000 hingga Rp240.000.
Kini, penghasilan Halim tidak hanya bersumber dari budidaya seledri. Ia juga memperoleh tambahan pendapatan dari usaha ternak ayam kampung yang dijual dengan harga Rp100.000 hingga Rp150.000 per ekor.
“Jika ingin berhasil, maka harus berani mencoba. Setelah mencoba, hasil yang diperoleh bisa diterapkan untuk usaha sekarang maupun ke depan,” ujar Halim.
Kisah Halim menjadi bukti bahwa inovasi pertanian berbasis organik dan pendampingan yang tepat mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani lokal.(*)

















