Oleh: Siti Warsila Bajo
Di tengah tuntutan untuk menjadi generasi muda yang produktif, kreatif, dan berprestasi, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan mental yang tidak terlihat. Kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuh dan pengembangan diri, bagi sebagian mahasiswa justru berubah menjadi sumber tekanan psikologis yang terus meningkat. Ironisnya, persoalan ini sering dianggap biasa karena mahasiswa dituntut untuk selalu terlihat kuat dan mampu menghadapi segala keadaan.
Kesehatan mental mahasiswa saat ini menjadi isu yang semakin penting untuk diperhatikan. Tekanan akademik, persaingan nilai, tuntutan organisasi, masalah ekonomi, hingga kecemasan terhadap masa depan membuat banyak mahasiswa mengalami stres berkepanjangan. Belum lagi pengaruh media sosial yang menciptakan standar kehidupan serba sempurna, sehingga mahasiswa tanpa sadar terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa merasa tertinggal, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami kelelahan mental atau burnout.
Masalah ini bukan sekadar asumsi. Data skrining terbaru dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara menunjukkan bahwa dari 34.715 siswa SMA sederajat yang diperiksa, sekitar 3.520 siswa terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa dan 1.963 siswa mengalami gejala depresi ringan. Kota Ternate menjadi salah satu wilayah dengan angka tertinggi. Meski data tersebut berasal dari kalangan pelajar, kondisi ini menjadi sinyal bahwa generasi muda di Maluku Utara, termasuk mahasiswa, berada dalam kondisi yang cukup rentan secara psikologis.
Sayangnya, persoalan kesehatan mental masih sering dipandang sebelah mata. Banyak mahasiswa memilih memendam tekanan yang mereka alami karena takut dianggap lemah, kurang bersyukur, atau tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Budaya “harus kuat” membuat mahasiswa enggan mencari bantuan. Akibatnya, banyak yang terlihat baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya sedang mengalami kecemasan, kehilangan motivasi, dan kelelahan emosional.
Jika dilihat dari perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), persoalan kesehatan mental mahasiswa tidak bisa dianggap sebagai masalah pribadi semata. Mahasiswa merupakan calon sumber daya manusia yang nantinya akan memasuki dunia kerja dan menentukan kualitas pembangunan daerah maupun nasional. Dalam konsep human capital, manusia dipandang sebagai aset utama yang menentukan kemajuan organisasi dan negara. Karena itu, kualitas mental generasi muda menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
Gangguan kesehatan mental yang dialami mahasiswa dapat memengaruhi produktivitas, kemampuan berpikir, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi di dunia kerja. Mahasiswa yang mengalami tekanan mental berkepanjangan cenderung sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi belajar, bahkan mengalami penurunan prestasi akademik. Jika kondisi ini terus diabaikan, Indonesia berisiko kehilangan generasi muda yang produktif dan inovatif di masa depan.
Dalam konteks bonus demografi, persoalan ini menjadi semakin penting. Indonesia sedang berada pada fase ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi ini seharusnya menjadi peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Namun, bonus demografi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila generasi mudanya mengalami krisis kesehatan mental. Sumber daya manusia yang unggul tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kondisi mental yang sehat dan stabil.
Kampus sebagai institusi pendidikan seharusnya tidak hanya fokus mencetak mahasiswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga memastikan mahasiswanya memiliki kondisi psikologis yang baik. Sayangnya, banyak kampus masih menjadikan layanan kesehatan mental hanya sebagai formalitas. Konseling kampus sering kali kurang dimanfaatkan karena minim tenaga profesional, kurang sosialisasi, atau bahkan dianggap tidak penting.
Karena itu, diperlukan langkah yang lebih konkret dalam menangani persoalan kesehatan mental mahasiswa. Kampus perlu menyediakan layanan konseling profesional yang mudah diakses mahasiswa tanpa stigma. Selain itu, perlu ada sistem deteksi dini terhadap mahasiswa yang mengalami tekanan mental melalui pendekatan akademik maupun sosial. Dosen juga perlu diberikan pemahaman mengenai mental health awareness agar lebih peka terhadap kondisi mahasiswa, bukan hanya fokus pada pencapaian nilai.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu mulai memahami pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Budaya memaksakan diri demi terlihat produktif perlu perlahan diubah. Istirahat yang cukup, membangun relasi sosial yang sehat, berolahraga, dan memiliki ruang untuk bercerita merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Mahasiswa perlu menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Selain itu, lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Teman sebaya, keluarga, dan masyarakat perlu menciptakan ruang yang aman bagi generasi muda untuk berbicara mengenai kondisi mental mereka tanpa takut dihakimi. Dukungan sederhana seperti mendengarkan cerita dan memberikan perhatian sering kali memiliki dampak besar bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis.
Pada akhirnya, kesehatan mental mahasiswa bukanlah isu kecil yang bisa diabaikan. Tekanan yang mereka alami memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya nyata terhadap kualitas hidup dan masa depan mereka. Jika kampus hanya sibuk mengejar prestasi akademik tanpa memperhatikan kondisi mental mahasiswa, maka pendidikan hanya akan melahirkan lulusan yang cerdas secara teori, tetapi rapuh secara emosional.
Kampus tidak cukup hanya mencetak lulusan berprestasi. Lebih dari itu, kampus juga harus mampu memastikan bahwa generasi muda tetap sehat secara mental agar mampu bertahan, berkembang, dan bersaing di tengah tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks.
Siti Warsila Bajo
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen Universitas Khairun, yang saat ini sedang menempuh mata kuliah Statistik di bawah bimbingan Dr. Nurul Hidayah.
















