Oleh: Muktamal Harqi Musa
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun
Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, berbagai nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat pedesaan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pola hidup yang semakin individualistis perlahan dapat menggeser tradisi gotong royong yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat. Namun, di Desa Pantura Jaya, nilai-nilai kebersamaan tersebut masih terjaga melalui budaya Fajjaga re Falgali, sebuah tradisi tolong-menolong dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.
Budaya Fajjaga re Falgali merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki fungsi penting sebagai modal sosial masyarakat. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana kerja sama dalam berbagai aktivitas kehidupan, tetapi juga menjadi perekat hubungan sosial antarmasyarakat. Keberadaannya berakar pada falsafah hidup masyarakat yang dikenal dengan semangat Fagogoru, yang mengandung nilai persaudaraan, saling menghargai (Ngaku Rasai), sopan santun, budi pekerti, serta rasa malu sebagai kontrol sosial dalam kehidupan bersama.
Sebagai modal sosial, Falgali berperan dalam membentuk karakter dan kepribadian masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Tradisi ini menjadi benteng yang mampu menahan masuknya paham individualisme yang berpotensi melemahkan solidaritas sosial. Melalui praktik saling membantu, masyarakat dapat meringankan beban tenaga maupun biaya dalam berbagai kegiatan, baik aktivitas sehari-hari, pesta keluarga, maupun pelaksanaan acara adat.
Lebih dari sekadar tradisi kerja sama, Fajjaga re Falgali juga menjadi strategi kolektif dalam menjaga kohesivitas sosial masyarakat Desa Pantura Jaya. Tradisi ini mampu mempertemukan dan mempererat hubungan antarkeluarga yang mungkin terpisah oleh jarak atau jarang berinteraksi. Dalam setiap kegiatan gotong royong, tercipta ruang perjumpaan yang memperkuat ikatan emosional, menumbuhkan rasa saling percaya, serta memperkokoh rasa persatuan sebagai bagian dari satu rumpun keluarga besar.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang dibangun melalui interaksi yang berlangsung secara terus-menerus. Hubungan sosial tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik, tetapi juga oleh nilai, norma, kepercayaan, serta jaringan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Unsur-unsur inilah yang dikenal sebagai modal sosial, yaitu sumber daya yang mampu memperkuat kerja sama dan solidaritas sosial. Kehadiran Fajjaga re Falgali menunjukkan bagaimana modal sosial bekerja secara nyata dalam kehidupan masyarakat Desa Pantura Jaya.
Selain memperkuat hubungan sosial, budaya ini juga berperan penting dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan semangat kerja sama yang terkandung dalam praktik tersebut menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dan stabil. Oleh karena itu, Fajjaga re Falgali dapat dipandang sebagai strategi efektif dalam menjaga keberlangsungan kohesi sosial di tengah perubahan zaman.
Dari sudut pandang ekonomi kelembagaan, modal sosial berupa kepercayaan, norma, dan jaringan sosial memiliki nilai ekonomi yang sangat besar karena mampu menekan biaya transaksi. Dalam konteks masyarakat Pantura Jaya yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan kelautan, seperti usaha pala, kelapa, dan aktivitas maritim, praktik Falgali menjadi mekanisme kerja kolektif yang sangat bermanfaat.
Ketika memasuki musim tanam, panen, maupun pembuatan perahu, masyarakat secara sukarela mengerahkan tenaga tanpa mengharapkan imbalan finansial. Sebagai bentuk penghargaan, pemilik lahan atau pihak yang dibantu hanya menyediakan konsumsi bagi warga yang terlibat. Sistem ini didasarkan pada prinsip resiprositas atau timbal balik, di mana bantuan yang diberikan hari ini akan dibalas ketika pemberi bantuan membutuhkan pertolongan di kemudian hari.
Dari sisi ekonomi, praktik tersebut memberikan efisiensi yang signifikan. Petani dan nelayan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membayar tenaga kerja harian karena kebutuhan tenaga dapat dipenuhi melalui kerja sama masyarakat. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan, sementara produktivitas tetap terjaga. Dalam sektor pertanian pala, cengkih, dan kelapa, maupun pembangunan rumah dan sarana masyarakat, Falgali menjadi mekanisme yang mampu menggantikan sistem tenaga kerja upahan dengan sistem gotong royong yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, budaya Fajjaga re Falgali bukan sekadar tradisi lokal, melainkan sebuah bentuk modal sosial yang memiliki peran strategis dalam menjaga kohesivitas masyarakat Desa Pantura Jaya. Melalui nilai kebersamaan, solidaritas, dan partisipasi sosial yang terkandung di dalamnya, tradisi ini mampu memperkuat hubungan sosial yang harmonis sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan Fajjaga re Falgali perlu terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya sekaligus fondasi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.













