POSTTIMUR.COM, TERNATE- Di tengah dominasi Pasar Gamalama sebagai pusat perdagangan utama di Kota Ternate, terdapat Pasar Dufa-Dufa yang meski lebih kecil dan tidak seramai pasar utama, menyimpan kisah tentang perjuangan para pedagang mempertahankan mata pencaharian mereka. Berbeda dengan pasar tradisional terbuka, Pasar Dufa-Dufa kini menempati bangunan tertutup yang memberikan perlindungan dari hujan maupun terik matahari. Namun, di balik fasilitas tersebut, para pedagang masih menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan usaha mereka, sekaligus melihat potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Secara administratif, Dufa-Dufa merupakan satu dari 13 kelurahan di Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ternate tahun 2023, jumlah penduduk Kota Ternate mencapai sekitar 204.920 jiwa, terdiri atas 104.128 laki-laki dan 100.792 perempuan. Sebagai kota kepulauan yang memiliki pelabuhan dan bandara, Ternate berperan sebagai pusat perdagangan utama di Maluku Utara. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Ternate dengan kontribusi sekitar seperempat dari total perekonomian daerah.
Di tingkat kelurahan, studi sosial-ekonomi yang dilakukan Kusrini dan Jumaris (2025) menunjukkan bahwa mata pencaharian masyarakat Dufa-Dufa cukup beragam. Nelayan menjadi kelompok terbesar dengan sekitar 39 persen, disusul pedagang sebanyak 25 persen, wiraswasta 19 persen, dan pegawai negeri sipil 15 persen. Data tersebut menegaskan bahwa perdagangan merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Dufa-Dufa. Aktivitas di Pasar Dufa-Dufa menjadi representasi denyut ekonomi warga yang setiap hari dijalankan oleh pedagang seperti Bapak Ipul dan Ibu Endang.
Dufa-Dufa juga dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman padat di pesisir yang pernah menjadi bagian dari program penataan kawasan kumuh oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), bersama kawasan Salero, Toboleu, dan Sangaji. Program tersebut melahirkan berbagai infrastruktur baru, seperti Taman Dufa-Dufa, perbaikan jalan, trotoar, hingga tanggul laut. Perpindahan Pasar Dufa-Dufa ke bangunan tertutup juga menjadi bagian dari transformasi kawasan tersebut sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih tertata sekaligus menyediakan ruang berdagang yang lebih layak.
Salah satu pedagang, Bapak Ipul, telah empat tahun berjualan hasil kebun berupa pisang, batata (ubi), dan kasbi (singkong). Sebagian besar barang dagangannya dipasok langsung oleh petani dari Jailolo dan Tobelo, meskipun sesekali ia mengambil sendiri hasil panen dari Jailolo.
Menurutnya, bangunan pasar yang baru memberikan kenyamanan karena melindungi pedagang dari panas dan hujan.
“Enak sih, tertutup begini. Kalau hujan tidak kena, tidak terlalu panas juga.”
Meski demikian, perpindahan pasar ke lokasi baru sekitar empat bulan lalu sempat membuat aktivitas perdagangan menurun drastis. Banyak warga belum mengetahui keberadaan pasar yang baru sehingga jumlah pembeli berkurang. Kini kondisi mulai berangsur pulih, meskipun keramaian hanya terlihat pada pagi dan sore hari.
Dalam hal harga, Bapak Ipul mengaku produk yang dijualnya relatif lebih murah dibandingkan pasar lain. Pisang dijual mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000, sedangkan di beberapa pasar lain harga barang serupa bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000. Menurutnya, kedekatan dengan daerah pemasok membuat biaya distribusi lebih rendah sehingga harga jual dapat ditekan. Kondisi ini juga menguntungkan masyarakat di wilayah utara Ternate yang tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi tambahan untuk berbelanja ke Pasar Gamalama.
Namun, ia mengungkapkan masih ada sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, seperti minimnya ruang penyimpanan barang, desain meja lapak yang terlalu tinggi, serta penerangan pasar yang kurang memadai pada malam hari karena sebagian lampu tidak berfungsi.
Cerita berbeda disampaikan Ibu Endang yang telah sekitar sepuluh tahun berjualan barito dan aneka sayuran di Pasar Dufa-Dufa. Menurutnya, pasar tersebut belum memiliki keunggulan yang benar-benar membedakannya dari pasar lain.
“Kalau bilang kelebihannya, tidak ada. Biasa-biasa saja.”
Ia menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan di Pasar Dufa-Dufa hanya ramai dalam waktu singkat pada pagi hari. Fenomena yang dikenal warga sebagai “pasar dua jam” menggambarkan kondisi ketika sebagian besar pembeli lebih memilih berbelanja ke Pasar Gamalama yang lebih ramai dan lengkap.
Hal yang paling menentukan hidupnya aktivitas perdagangan di Pasar Dufa-Dufa, menurut Ibu Endang, adalah keberadaan kapal yang membawa pasokan barang dari luar daerah.
“Kalau kapal masuk di sini, otomatis jualan bisa berputar. Pasar Dufa-Dufa itu tergantung dari kapal.”
Saat kapal bersandar dan membawa pasokan dari Halmahera maupun daerah lain, omzet penjualan dapat mencapai Rp500.000 hingga Rp600.000 per hari. Sebaliknya, ketika kapal tidak masuk, pendapatan pedagang turun menjadi sekitar Rp300.000 hingga Rp400.000. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan Pasar Dufa-Dufa sangat dipengaruhi oleh kelancaran distribusi barang antarpulau, sejalan dengan karakter Kota Ternate sebagai kota pelabuhan.
Dari sisi fasilitas, Ibu Endang juga menyoroti kondisi atap pasar yang masih sering bocor saat hujan.
“Kalau dilihat memang rapi dan bagus. Tapi kalau hujan tetap bocor.”
Ia juga meyakini harga barang di Pasar Dufa-Dufa relatif lebih murah dibandingkan Pasar Bastiong, sementara Pasar Gamalama tetap menjadi acuan harga bagi sebagian besar pedagang.
Harapan terbesar para pedagang adalah agar kapal-kapal pengangkut hasil bumi dari Halmahera dapat rutin bersandar di Pasar Dufa-Dufa.
“Kalau kapal dari Halmahera masuk ke sini, bukan cuma pedagang barito yang jalan. Pedagang kue, sayur, semuanya bisa ikut berjualan. Pasar bisa ramai kalau pasokan dari kapal masuk.”
Selain mewawancarai Bapak Ipul dan Ibu Endang, tim juga berdiskusi dengan Ibu Jana, pedagang ikan yang telah berjualan selama kurang lebih 30 tahun di Pasar Dufa-Dufa, serta Ibu Eda, warga asli yang lahir dan besar di kawasan tersebut.
Dari berbagai cerita yang dihimpun serta didukung data yang tersedia, terlihat bahwa Pasar Dufa-Dufa memiliki potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan sekitar seperempat penduduk kelurahan berprofesi sebagai pedagang dan lokasi yang strategis untuk melayani masyarakat di wilayah utara Kota Ternate, pasar ini sesungguhnya dapat berkembang menjadi pusat perdagangan lokal yang lebih kuat. Selain menawarkan harga yang kompetitif, keberadaan pasar juga dapat menjadi alternatif yang lebih efisien bagi masyarakat tanpa harus menuju Pasar Gamalama.
Meski demikian, sejumlah persoalan mendasar masih memerlukan perhatian, seperti penyediaan ruang penyimpanan barang, perbaikan desain lapak, peningkatan penerangan, perbaikan atap yang bocor, serta penguatan sistem distribusi melalui arus kapal yang lebih stabil dan terjadwal. Apabila berbagai kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui dukungan pemerintah maupun pengelola pasar, Pasar Dufa-Dufa berpeluang tumbuh menjadi pusat perdagangan yang lebih hidup dan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat di kawasan utara Kota Ternate.












