Kebudayaan Dalam Kemanusiaan

Opini1394 Dilihat

Foto : Bambang Rano

Oleh : Bambang Rano

(Aktifis Maluku Utara)

Spirit kebudayaan harus diresapi dan dihayati dengan “dialog” kultur sebagai diskursus kebudayaan diabad ke 21 untuk merespon dinamika sosial yang redup.

Pergulatan “kebudayaan” diabad ke 21 ini serba tak berarah dan tak beraturan. Maka harus respon kesadaran untuk melakoni kebudayaan sebagai “oto kritik” dengan konteks yang tanpa arah dan tanpa tujuan. Dengan demikian, arus waktu akan menggilas kita dengan kebudayaan yang mengalami pergeseran nilai pada ruang dan konteksnya.

Pergeseran nilai kebudayaan pada ruang dan konteksnya, akibat mobilitas struktur masyarakat atas dan bawah dari berbagai unsur entitas sosial yang masif. Sehingga struktur entitas sosial mengalami transformasi akulturasi dan asimilasi yang menandai “kemajemukan” dan bisa bersitegang pada benturan kepentingan ekonomi dan politik.

Dengan bersitegang dinamika ekonomi dan politik akan terjadi “distegrasi sosial” yang terbelah. Dalam artian itu, kebaharuan pemikiran untuk saling menerjemahkan antara satu dengan lain.  Sebagai upaya titik temu kemajemukan masyarakat  untuk bertemu pada suara “toleransi kemanusiaan”.

Cak Nur dan Gus Dur dua tokoh tersohor Indonesia yang merintis jalan kemanusiaan untuk saling menerima dan mengelolah “kemajemukan” sebagai visi persaudaraan universal. Sikap terbuka dan saling menerima nilai kodrat martabat kemanusiaan. Dengan sendirinya sikap toleransi agar saling menerima nilai kemanusiaan. Titik temu nilai kemanusiaan memiliki tarikan yang “membumi” di Indonesia, sebagai aksi perubahan sosial untuk mengjewantahkan ketidakadilan dan ketimpangan kemanusiaan dalam kehidupan sosial.

Kesadaran kemanusiaan yang hanif serta dicerahkan dalam kehidupan moral dan etika dengan pergulatan refleksi dialog. Pergulatan terus berjalan dengan surutnya waktu dan bergerak dari ruang yang dinamik.  Dinamika  sosial  harus  diguliti dalam nalar publik dengan “pembaharuan pemahan” dalam integrasi sosial.  Refleksi dinamika masyarakat kontemporer ini harus kesadaran kolektivitas, agar tidak lagi  korban orang-orang yang tidak berdosa.

Kita harus menegaskan diri bahwa orang-orang yang korban, jangan mengulangi luka yang kelam. Akibat dari  ambisi  untuk berkuasa dengan tindakan kekerasan. Dan berhenti saling menuduh antara satu dengan lain yang berbeda dan berhenti saling mengklaim kebenaran.

Siapa yang paling benar dan siapa yang disalahkan. Sikap  tertutup seperti ini, dengan sendirinya terjadi benturan “politik indentitas” akibat dari defisit pemikiran diambang krisis kemanusiaan. Cara berpikir yang picik dan sempit itu  menghambat “kebebasan dan kemanusiaan” dan kemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *