POSTTIMUR.com, TERNATE- Harapan kembali menyapa lahan-lahan pertanian yang dahulu nyaris tak berdaya. Julianto, seorang petani di Maluku Utara, menjadi saksi perubahan besar di tengah tantangan iklim dan kerusakan lingkungan yang kian nyata.
Selama lebih dari 15 tahun, Julianto bergulat dengan tanah yang makin keras, hasil panen yang terus menurun, serta ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan merusak. Titik balik terjadi pada tahun 2021, saat Wahana Visi Indonesia memperkenalkan pupuk hayati Bio Konversi melalui program pelatihan dan pendampingan untuk para petani.
“Sebelumnya tanah saya keras, pH-nya tidak seimbang, dan hasil panen terus menurun, Tapi sejak rutin menggunakan Bio Konversi, tanah saya berubah. Lebih gembur, pH-nya normal, dan tanaman tumbuh jauh lebih sehat.” Ujar Julianto.
Tak hanya itu, kini Julianto mampu membuat pupuk cair organik sendiri dari kotoran ternak yang difermentasi dengan Bio Konversi. Prosesnya sederhana, hemat biaya, dan sekaligus membantu mengurangi limbah serta potensi pencemaran lingkungan. Ini membuka peluang bagi para petani untuk lebih mandiri dalam menjaga kesuburan lahan mereka.
Baca Juga:
Penjara Untuk Masyarakat, Karpet Merah Untuk Pertambangan
Pemprov Maluku Utara dan Industri Mengancam Kehidupan Masyarakat
Manfaat lain yang dirasakan adalah meningkatnya ketahanan lahan terhadap perubahan iklim. Hal ini menunjukkan peran penting Bio Konversi dalam memperkuat ketahanan terhadap cuaca ekstrem dan risiko bencana lingkungan.
“Saat musim kemarau, tanah tetap lembap lebih lama. Sementara saat musim hujan, tanah tidak mudah tererosi,” jelasnya.
Kini, Julianto tidak hanya menikmati panen yang lebih baik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi petani lain di desanya. Ia rutin berbagi pengalaman dan mengajak rekan-rekannya untuk beralih dari ketergantungan pada pupuk kimia menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
“Bagi saya, perubahan terbesar bukan sekadar hasil panen yang meningkat, Tapi harapan atas tanah yang sehat dan masa depan yang lebih aman bagi keluarga dan desa kami.” Tutup Julianto.
Editor: Ikhy










