Oleh: Anak Cucu Adam
“Manusia adalah spesies Homo sapiens yang membunuh dirinya sendiri dan memusnahkan alam, kecuali mereka yang sadar dan berjuang melawan hawa nafsunya.”
Republik ini adalah atlas ritual yang diwariskan oleh para leluhur: sebuah bumi yang dianugerahi empat kerajaan dengan adat istiadat dan tradisi yang kaya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” begitu bunyi ayat dalam Surah Ar-Rahman. Ayat tersebut bukan sekadar lafaz spiritual, tapi memiliki makna sosiologis dan geografis—sebuah takdir yang dititipkan Tuhan kepada manusia dan alam.
Keindahan laut biru, gugusan pulau-pulau kecil di Raja Ampat, Papua Barat Daya, adalah perwujudan nyata dari nikmat itu. Sebuah panorama yang menyerupai surga. Bagi mereka yang hidup di padang gersang, Raja Ampat adalah mimpi. Tapi hukum geografis telah menetapkan: surga itu ada di Indonesia.
Namun, keindahan ini kini berada di ujung tanduk. Atas nama pembangunan dan investasi, industri nikel perlahan-lahan merusak pulau-pulau di Raja Ampat. Seruan atas nama negara tidak lagi netral di dalamnya ada kepentingan modal dan skandal bisnis yang menggiring negeri ini untuk menutup mata terhadap ayat-ayat suci dan makna religius dari penjagaan alam.
Jika kita benar-benar mengimani agama, mengapa ayat-ayat suci tak lagi berarti di hadapan kekuasaan? Di mana suara para pemuka agama saat hutan dibabat dan laut tercemar? Padahal mereka berdiri di mimbar, menyerukan agar manusia menjaga alam dan berbuat baik kepada sesama.
Baca Juga:
Pemprov Maluku Utara dan Industri Mengancam Kehidupan Masyarakat
Dari Kritis Menjadi Apresiatif, Ada Apa dengan Cipayung Plus dan Pemkab Buru Selatan?
Siapakah yang benar-benar manusia: mereka yang memperkokoh tradisi dan menjaga hubungan sakral antara alam, manusia, dan Tuhan, atau mereka yang menjadi dalang kepunahan alam demi keuntungan kapital?
Empat kerajaan besar di timur Indonesia Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan pernah menjadi poros utama peradaban maritim dunia. Dalam sejarah rempah-rempah, nama Maluku selalu menjadi pusat perhatian. Cengkeh dan pala pernah dihargai setara dengan emas, seperti nikel hari ini.
Hingga kini, para penguasa adat dari empat kerajaan itu masih berperan sebagai pelindung tradisi, manusia, dan alam. Setelah reformasi 1998, terbentuklah Provinsi Maluku Utara sebagai wujud pengakuan negara terhadap identitas dan kekuasaan adat.
Falsafah “Adat Matoto Agama, Agama Matoto Kitabullah, dan Kitabullah Matoto Allah Ta’ala” dari Kesultanan Ternate mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat adat. Ini adalah bentuk kesatuan antara alam, manusia, dan Tuhan. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam: hablum minal ‘alam, hablum minannas, hablum minallah. Namun kini, prinsip-prinsip ini hanya menjadi dongeng bagi para pemilik modal.
Masyarakat Adat Maba Sangaji justru disalahkan karena dianggap tidak paham hukum negara atau UU Minerba. Padahal, yang mereka tahu adalah hidup berdasarkan tradisi, menjaga tanah, dan menyatu dengan alam. Bagi mereka, tanah adalah ruh; alam adalah ruang batin. Kajian antropologis menunjukkan, masyarakat adat menjadikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari iman mereka kepada Tuhan.
Namun dalam logika kekuasaan modern, tanah bukan lagi titipan Tuhan, melainkan komoditas. Maka jadilah masyarakat adat korban penyembelihan—dikorbankan atas nama investasi, seperti Ismail dalam kisah Ibrahim, tetapi dengan tafsir yang terbalik.
Idul Adha dan Tafsir yang TerbIdul Adha adalah perayaan keikhlasan dan pengabdian. Ibrahim rela menyembelih anaknya demi ketaatan kepada Allah. Tapi kini, dalam tafsir ekonomi-politik, justru yang disembelih adalah hak-hak masyarakat, hutan, laut, dan adat.
Apakah kita hanya merayakan Idul Adha sebagai seremoni? Apakah kita sudah kehilangan makna tauhid dalam membela air, udara, dan hutan?
Jika Ismail dan Ibrahim dihidupkan kembali hari ini, mungkin mereka akan dicurigai sebagai ancaman. Sebab di tangan Ibrahim ada benda tajam—di zaman ini, simbol perlawanan kerap dituding sebagai tindakan melawan hukum.
Raja Ampat dan Empat Kerajaan bukanlah entitas kosong. Mereka mewarisi sejarah panjang yang sakral. Tetapi penjajahan hari ini tidak lagi menggunakan senjata. Ia datang dalam bentuk modal, regulasi, dan perizinan. Daya hancurnya bahkan lebih dahsyat.
Lihat kembali sejarah rempah-rempah di Halmahera: adakah empat kesultanan itu pernah memenjarakan masyarakat adat yang melawan penjajah? Tidak. Tapi hari ini, masyarakat adat justru dikriminalisasi karena mempertahankan hak dan imannya kepada Tuhan melalui penjagaan alam.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)
















