Oleh: Siti Khoiriyah Hatala
Program Studi Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon
Bayangkan sebuah surga yang terhampar di ujung timur Indonesia: laut biru kristal, gugusan pulau-pulau karst yang megah, serta keanekaragaman hayati laut yang menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu kawasan paling istimewa di dunia. Namun di balik keelokan itu, kini berhembus ancaman: rencana industrialisasi tambang nikel mulai membayangi keindahan alam dan ketenangan sosial wilayah ini.
Sebagai anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai keberlanjutan, saya merasa cemas. Mengapa harus tambang? Apakah kekayaan yang Tuhan titipkan di Raja Ampat hanya dinilai dari kandungan nikel di perut buminya, bukan dari nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang dikandungnya?
Luka Tambang di Tanah Surga
Rencana eksploitasi tambang nikel di Raja Ampat bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut arah kebijakan nasional. Ketika Presiden menyebut nikel sebagai “komoditas masa depan,” banyak kepala daerah berlomba membuka izin tambang dengan dalih pembangunan industri hijau dan kendaraan listrik. Namun berbagai studi menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan di wilayah pesisir dan kepulauan yang sensitif justru membawa risiko kerusakan permanen.
Contohnya terlihat di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Menurut JATAM (Jaringan Advokasi Tambang), aktivitas tambang nikel di sana telah menyebabkan pencemaran laut, hilangnya mata pencaharian nelayan, dan konflik lahan dengan masyarakat adat (JATAM, 2022). Ini menunjukkan bahwa tambang bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan keberlanjutan ekosistem.
Raja Ampat sendiri merupakan bagian dari Coral Triangle, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Laporan Conservation International menyebut kawasan ini memiliki lebih dari 1.500 spesies ikan dan 540 spesies karang—mewakili 75% spesies karang dunia (CI, 2021). Kerusakan di sini berarti kerusakan dengan dampak ekologis berskala global.
Alternatif Bernama Pariwisata Halal
Di sisi lain, Raja Ampat menyimpan potensi besar sebagai destinasi pariwisata halal kelas dunia. Pariwisata berbasis nilai ini menekankan prinsip keberlanjutan, kenyamanan bagi wisatawan Muslim, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan secara adil dan inklusif.
Menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 oleh CrescentRating dan Mastercard, jumlah wisatawan Muslim dunia mencapai 140 juta orang dan diprediksi meningkat menjadi 230 juta pada 2028. Indonesia saat ini menempati peringkat pertama sebagai destinasi wisata ramah Muslim (GMTI, 2023). Namun, wilayah timur seperti Papua Barat masih belum banyak tersentuh dalam inisiatif ini.
Padahal, pengembangan wisata halal di Raja Ampat dapat dimulai dari pendekatan lokal: penyediaan makanan halal, fasilitas ibadah, pelatihan SDM lokal, hingga promosi destinasi yang menonjolkan nilai-nilai Islam seperti kebersihan, keramahan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Baca Juga:
Pace Mace Pu Tanah: Jaga Warisan, Tolak Tambang yang Merampas
Sebagai contoh, pengembangan wisata halal di Lombok telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian lokal. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan UMKM dan sektor perhotelan di NTB (Kemenparekraf, 2022).
Menjaga, Bukan Menggadai
Raja Ampat bukan ruang kosong. Ia adalah tanah adat suku Maya dan Biak, yang memiliki tradisi serta kepercayaan bahwa laut dan hutan merupakan bagian dari identitas spiritual mereka. Menurut WALHI Papua Barat, masyarakat lokal menolak kehadiran tambang karena khawatir akan hilangnya ruang hidup dan rusaknya sumber daya alam yang menopang kehidupan mereka secara turun-temurun (WALHI, 2023).
Dalam perspektif ekonomi Islam, prinsip menjaga kemaslahatan (maslahah) dan menghindari kerusakan (mafsadah) menjadi landasan utama. Maka pembangunan semestinya mengutamakan keberkahan, bukan semata keuntungan ekonomi. Dan keberkahan tidak mungkin tumbuh di atas tanah yang rusak secara paksa.
Penutup: Seruan untuk Kita Semua
Opini ini bukan sekadar bentuk protes, tetapi ajakan untuk merenung dan berpikir ulang: apakah kekayaan sejati harus selalu diukur melalui eksploitasi sumber daya? Mengapa tidak kita tempatkan nilai spiritual, ekologis, dan sosial di atas logika ekonomi yang eksploitatif?
Raja Ampat adalah warisan bangsa, aset dunia, dan amanah Tuhan. Ia bukan untuk ditambang, tetapi untuk dihormati dan dijaga. Mari kita rawat surga ini, sebelum ia hanya tinggal cerita.










