Kerap Diguyur Hujan Tinggi, Pengendalian Air Limpasan Jadi Tantangan Tambang Nikel di Pulau Obi

POSTTIMUR.COM, HALSEL- Curah hujan tinggi yang mengguyur Pulau Obi hampir sepanjang tahun menjadi tantangan tersendiri bagi aktivitas pertambangan nikel di wilayah tersebut. Dengan intensitas hujan yang pada 2022 tercatat mencapai sekitar 4.600 mm per tahun, pengendalian air limpasan menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar kawasan tambang.

Di wilayah tropis basah seperti Obi, hujan yang mengalir dari area terbuka berpotensi membawa partikel tanah menuju sungai maupun perairan pesisir apabila tidak dikelola secara optimal. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sebagian area operasional pertambangan berbatasan langsung dengan laut yang menjadi habitat biota serta sumber penghidupan masyarakat pesisir dan nelayan lokal.

Untuk mengendalikan limpasan tersebut, kawasan operasional Harita Nickel membangun sedikitnya 52 kolam penampung sedimen di sejumlah titik strategis. Salah satu fasilitas terbesar adalah kolam sedimentasi Tuguraci 2 yang memiliki luas sekitar 43 hektar dengan kapasitas tampung mencapai 924.000 meter kubik.

Tim Observasi Perkumpulan Telapak yang meninjau langsung area tersebut melihat aliran air berwarna kecokelatan perlahan masuk ke kolam penampungan sebelum menjalani proses pengolahan lebih lanjut. Sedimen yang mengendap di dasar kolam secara berkala dikeruk untuk dimanfaatkan kembali dalam proses reklamasi lahan bekas tambang.

“Kolam ini sangat efektif menangkap aliran air di area perusahaan,” ujar Dickson Aritonang dari Tim Observasi Perkumpulan Telapak.

Selain kolam sedimentasi, air limpasan dari area tambang juga diolah melalui instalasi pengolahan air limbah menggunakan teknologi koagulan dan flokulan guna mengurangi partikel tersuspensi sebelum dialirkan kembali ke lingkungan. Lumpur hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam dalam kegiatan revegetasi dan reklamasi.

Bagi para peneliti lingkungan, tata kelola air menjadi salah satu indikator penting dalam menilai praktik pertambangan di wilayah tropis dengan bentang alam sensitif seperti Pulau Obi. Dalam konsep planetary boundaries yang diperkenalkan ilmuwan sistem bumi Will Steffen bersama tim Stockholm Resilience Centre, kualitas air dan stabilitas ekosistem perairan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Dickson menilai sistem pengendalian limpasan di sekitar kolam sedimentasi masih dapat diperkuat melalui pendekatan vegetatif. Menurutnya, penanaman pohon berakar kuat di sekitar kolam dapat membantu memperkuat struktur tanah sekaligus berfungsi sebagai filter alami.

Selain itu, pengelola kawasan juga menerapkan zona penyangga di sekitar badan air serta teknologi aerasi guna menjaga kadar oksigen dan sirkulasi air. Pendekatan berbasis vegetasi dan sistem alami seperti ini kini semakin banyak diterapkan dalam praktik pengelolaan lingkungan modern sebagai bagian dari nature-based solutions.

Dokumentasi: Fasilitas kolam penampung sedimen Tuguraci 2 yang digunakan untuk mengendapkan partikel padatan dalam air limpasan sebelum dialirkan ke lingkungan.

Peneliti Institut Teknologi Bandung, Sonny Abfertiawan, mengatakan bahwa pengelolaan lingkungan di wilayah tropis basah membutuhkan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi alam yang terus berubah.

“Harita Nickel adalah salah satu perusahaan yang telah menerapkan prinsip good mining practice dengan serius, meski penerapan di lapangan akan selalu menghadapi tantangan karena kondisi alam yang dinamis,” ujarnya.

Menurut Sonny, Pulau Obi memiliki sumber daya air penting seperti Sungai Akelamo dan Danau Karo yang perlu dijaga kualitasnya karena memiliki nilai ekologis dan potensi pemanfaatan bagi masyarakat sekitar.

Dokumentasi: Tim lapangan melakukan sampling air secara berkala di Tuguraci 2 guna memastikan kondisi lingkungan tetap terjaga.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan cuaca dan tingginya intensitas hujan membuat sistem pengendalian limpasan harus dirancang secara tangguh dan adaptif agar tetap memenuhi baku mutu lingkungan, termasuk saat menghadapi cuaca ekstrem.

Di tengah perubahan iklim dan kondisi pesisir yang sensitif, pengendalian air limpasan di kawasan tambang pada akhirnya menjadi proses yang terus berkembang mengikuti dinamika alam. Kemampuan sistem untuk beradaptasi dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar kawasan pertambangan Pulau Obi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *