Oleh: Triwulan Tan
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Khairun
Kehidupan kuliah sering dianggap sebagai fase yang penuh kebebasan sekaligus tanggung jawab. Pada masa ini, mahasiswa mulai belajar hidup mandiri, mengatur waktu sendiri, hingga menentukan arah masa depannya. Banyak mahasiswa memasuki dunia perkuliahan dengan semangat besar dan berbagai harapan. Ada yang ingin memperoleh nilai terbaik, aktif dalam organisasi, mencari pengalaman baru, hingga membanggakan orang tua. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak semua mampu mempertahankan semangat tersebut. Perlahan, rasa malas mulai muncul dan tanpa disadari menghambat keinginan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Di era digital saat ini, mahasiswa hidup di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Internet dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Teknologi sebenarnya memberikan banyak manfaat, terutama dalam dunia pendidikan. Mahasiswa dapat dengan mudah mencari materi kuliah, berdiskusi secara daring, hingga menyelesaikan tugas dengan bantuan berbagai aplikasi. Akan tetapi, kemudahan itu juga membawa dampak negatif apabila digunakan secara berlebihan.
Banyak mahasiswa tanpa sadar lebih sering menghabiskan waktu bermain media sosial dibandingkan belajar atau mengerjakan tugas. Awalnya hanya membuka aplikasi untuk beberapa menit demi menghilangkan rasa bosan, tetapi akhirnya waktu terbuang berjam-jam tanpa terasa. Kebiasaan seperti ini membuat mahasiswa semakin sulit fokus terhadap kewajiban mereka. Tugas mulai ditunda, jadwal belajar menjadi tidak teratur, bahkan waktu istirahat ikut berantakan. Lama-kelamaan, kondisi tersebut dianggap biasa dalam kehidupan perkuliahan.
Selain pengaruh media sosial, rasa malas juga muncul karena mahasiswa terlalu nyaman dengan kebiasaan menunda pekerjaan. Banyak mahasiswa sebenarnya memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih disiplin, produktif, dan serius menjalani kuliah. Namun, keinginan itu sering kalah oleh rasa nyaman untuk bersantai. Kalimat seperti “nanti saja” atau “masih ada waktu” menjadi alasan yang terus diulang untuk menunda pekerjaan. Akibatnya, tugas dikerjakan mendekati batas pengumpulan dan hasil yang diperoleh pun tidak maksimal.
Fenomena ini cukup sering terjadi di lingkungan kampus. Pada awal semester, banyak mahasiswa membuat target besar. Mereka ingin rajin belajar, mengurangi kebiasaan begadang, dan lebih fokus terhadap masa depan. Akan tetapi, semangat tersebut perlahan memudar ketika tugas semakin banyak dan rasa lelah mulai muncul. Mahasiswa akhirnya kembali pada kebiasaan lama: menunda pekerjaan dan memilih hal-hal yang memberikan kenyamanan sesaat.
Tekanan dalam kehidupan kuliah juga menjadi salah satu penyebab mahasiswa kehilangan motivasi. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, persoalan ekonomi, hingga tuntutan keluarga sering kali membuat mahasiswa merasa lelah secara mental. Di sisi lain, media sosial juga mendorong mahasiswa untuk terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika melihat teman-temannya tampak sukses dan produktif, sebagian mahasiswa justru merasa minder dan kehilangan semangat untuk berkembang. Mereka merasa tertinggal bahkan sebelum mencoba untuk bangkit.
Padahal, rasa malas yang terus dibiarkan dapat memberikan dampak buruk bagi masa depan. Kebiasaan menunda pekerjaan membuat seseorang menjadi kurang disiplin dan sulit mengatur waktu. Jika hal ini terus dilakukan, mahasiswa akan kesulitan menghadapi dunia kerja yang membutuhkan tanggung jawab, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar secara akademik, tetapi juga mereka yang memiliki disiplin dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, mahasiswa perlu mulai belajar melawan rasa malas sejak sekarang. Perubahan memang tidak terjadi secara instan, tetapi bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Misalnya, membiasakan diri mengerjakan tugas lebih awal, mengurangi penggunaan media sosial secara berlebihan, serta membuat jadwal kegiatan harian yang teratur. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membantu mahasiswa menjadi lebih disiplin dan produktif dalam menjalani kehidupan kuliah.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memiliki tujuan yang jelas agar lebih termotivasi untuk berkembang. Ketika seseorang mengetahui apa yang ingin dicapai, maka ia akan memiliki alasan untuk terus berusaha. Masa kuliah seharusnya menjadi waktu untuk belajar memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan, bukan sekadar rutinitas tanpa arah yang jelas.
Pada akhirnya, rasa malas merupakan hal yang manusiawi dan bisa dialami oleh siapa saja. Namun, jika rasa malas terus lebih besar daripada keinginan untuk berubah, maka banyak kesempatan baik akan terlewat begitu saja. Mahasiswa sebagai generasi muda seharusnya mampu memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan lebih bijak. Dengan disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk berkembang, kehidupan kuliah dapat menjadi langkah penting menuju masa depan yang lebih baik.
















