Dampak Teknologi sebagai Ajang Generasi Muda

Opini1136 Dilihat

Oleh : Yusril Salim
(Penulisan Adalah Mahasiswa IAIN)

Saat ini kita diperhadapkan dengan situasi begitu rumit. Dimana Perkembangan teknologi semakin pesat dan perubahan status kehidupan sosial juga kian padat.

Indonesia sendiri tercatat bahwa dari awal perkembangan teknologi diantaranya berupa sistem komunikasi satelit domestik para tahun 1974-1976 bahkan dikemudian hari berdatangan bebagai macam alat teknologi berupa Handphone, Televisi dan sebagainya. Ini memungkinkan bahwa Era perkembangan perubahan Gaya hidup baru telah di mulai.

Ketika Revolusi Industri terjadi pada Abad Ke 18, alhasil ditandai dengan perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. sehingga memiliki dampak yang sangat besar, bahkan merongrong masuk kedalam sistem kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di seluruh dunia. Ini mengartikan bahwa Perubahan Membawa wajah baru Kehidupan.

Pada abad ke XXI (21) sekarang ini Perkembangan Teknologi kian Canggih dan Perjalanan Manusia begitu mudah. Indonesia sendiri tercatat sebagai Negara yang mana tidak bisa terlepas dari Ketergantungan Teknologi. Dengan demikian Indonesia pula mempersiapkan diri menyambut hangat terknologi itu dengan baik.

Keterpakaian Teknologi di Negara Indonesia sudah bertahun-tahuan, namun sesungguhnya semakin pesat perkembangan teknologi belum menjadi target kemajuan pemikiran kita, Bangsa Indonesia secara bersama. Ini dibuktikan berdasarkan Fakta di lapangan bahwa justru perkembangan teknologi di era sekarang membuat lemahnya cara berfikir generasi muda sehingga minimnya kesadaran untuk menjadi generasi Pecinta ilmu Pengetahuan. Alasan ini tentunya menghasilkan pro dan kontra, namun ketika kita melihat secara rinci dan masif maka tak bisa kita pungkiri kejadiannya.

Berbicara soal generasi muda dan tanggungjawab Yang ada di pundaknya, tentunya ini bukan menguraikan cerita dongeng dibalik pena diatas kertas. Namun ini membutuhkan pikiran, waktu, serta tenaga yang cukup banyak untuk membangun generasi yang memiliki jiwa Integritas dan menjadi pilar peradaban baru pada waktu mendatang. Maka seyogyanya Kita sebagai generasi mudah harus sadar bahwa teknologi bukan pegangan dan tujuan serta cita-citakan untuk diri kita, akan tetapi yang menjadi pegangan sejati adalah pengetahuan dan Integritas diri yang tinggi.

Murtadha Muthahari seorang Cendekiawan sekaligus Filsuf Iran. Dalam bukunya berjudul : Pengantar Epistiimologi Islam. Ayatullah Murtadha Muthahari pernah Mengatakan Bahwa : Hidup sehari dengan mata terbuka ( Memiliki ilmu pengetahuan/Belajar) itu lebih mulia, daripada hidup bertahun-tahun dengan mata tertutup (tidak memiliki Ilmu pengetahuan/tidak belajar). Pertanyaan ini jika di konstekskan pada masa sekarang bahwasannya kita sebagai generasinya mudah dan bahkan Manusia sebagai Makhluk Tuhan pada umunya harus Menjadi Khalifah dengan potensi Akal, dan hati, sebagai Instrumen Pengabdian, untuk mencapai Rahmat bagi Semesta Alam.

Olehnya itu sebagai generasi muda kaum pelajar, maka berpikirlah lebih jauh kedepan. Karena sesungguhnya apa yang kita nikmati saat ini belum tentu berguna bagi kita di masa mendatang. Kita tidak bisa pungkiri bahwa kita terlepas dari Kepentingan teknologi untuk memudahkan urusan pribadi. Namun amatilah sejanak. Sehingga kita dapat menarik kesimpulan bahwa  kenikmatan teknologi tidak menjadi kenikmatan Surga dunia, namun jadikan sebagai spirit Perjuangan untuk memijaki era baru kedepannya agar generasi mudah tidak dikatakan sebagai generasi mati rasa, tetapi sebagai generasi Penerus Kemajuan dan Peradaban Bangsa maupun Negara demi Terwujudkan Masyarakat berakal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *