Dari Desa Makaeling untuk Anak Indonesia: Hari Anak Nasional Adalah Pengingat, Bukan Seremoni

Opini1199 Dilihat

Oleh: Mahasiswa Kubermas Unkhair Tahap I Tahun 2025
Desa Makaeling, Kao Teluk, Halmahera Utara

Tanggal 23 Juli bukan sekadar sebuah perayaan. Hari Anak Nasional adalah pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang hak dasarnya belum terpenuhi secara layak. Ini adalah waktu penting untuk menilai kembali dan memperkuat komitmen kita dalam melindungi, mendampingi, dan memberikan ruang tumbuh yang layak bagi anak-anak terutama mereka yang tinggal di desa-desa seperti Desa Makaeling.

Selama menjalani kegiatan pengabdian di Desa Makaeling, kami menyadari bahwa isu pendidikan masih menjadi tantangan utama. Akses yang terbatas, keterbatasan guru, fasilitas belajar yang belum memadai, serta lingkungan sosial yang penuh keterbatasan membuat proses belajar mengajar menjadi perjuangan harian bagi anak-anak.

Salah satu cerita yang membekas bagi kami adalah Desi, siswi kelas 3 SD yang hampir tak pernah absen mengikuti kegiatan Sekolah Rakyat dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) yang kami laksanakan. Meskipun Desi masih kesulitan mengenali sebagian huruf dan memiliki daya tangkap yang belum optimal, semangatnya tidak pernah pudar. Ia datang lebih awal dari teman-temannya, duduk di barisan depan, dan selalu membawa buku kecil kesayangannya, meski belum sepenuhnya bisa membacanya.

Mengajar Desi butuh kesabaran ekstra. Namun dari proses itu, kami belajar bahwa pendidikan bukan soal kecepatan menyerap, tetapi soal kesempatan untuk mencoba, belajar, dan tidak pernah disisihkan. Desi adalah simbol dari anak-anak desa yang belum mendapat dukungan sistem pendidikan seperti yang mudah dijangkau oleh anak-anak di kota.

Realita ini menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan masih nyata. Di banyak daerah, sistem pendidikan kita masih belum peka terhadap kebutuhan dan kondisi lokal. Proses pembelajaran formal seringkali tidak relevan dan jauh dari konteks kehidupan anak-anak desa, seperti di Makaeling. Padahal, setiap anak berhak mendapatkan akses yang sama, baik dalam pengetahuan, kesehatan, maupun perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi.

Hari Anak Nasional seharusnya menjadi waktu refleksi nasional, bukan hanya seremoni tahunan. Kita harus bertanya: Apakah anak-anak seperti Desi juga merayakan Hari Anak Nasional dengan penuh sukacita, atau hanya sekadar mendengarnya lewat spanduk yang lewat?

Baca Juga:

Mahasiswa Kubermas Unkhair Gelar Sekolah Rakyat di Makaeling: Alternatif Pendidikan di Tengah Ketimpangan Akses

Menata Masa Depan Maluku Utara Melalui Perencanaan Pembangunan Wilayah yang Inklusif dan Berkelanjutan

Sebagai Mahasiswa Kubermas Unkhair, kami hadir bukan untuk membawa perubahan besar dalam waktu singkat, tetapi untuk membuka jalan, membangun kepercayaan, dan menciptakan ruang-ruang belajar yang sederhana namun bermakna. Kami percaya bahwa dari ruang kecil itulah anak-anak desa bisa mulai membangun harapan.

“Every child is a precious gift. Happy National Children’s Day.”
Setiap anak adalah anugerah yang berharga. Selamat Hari Anak Nasional.

Dari Desa Makaeling, kami mengirimkan pesan untuk seluruh Indonesia: Jangan biarkan anak-anak desa berjalan sendirian dalam sunyi. Dampingi lah mereka dengan keadilan, pendampingan nyata, dan pendidikan yang relevan. Karena mereka, seperti Desi, adalah wajah masa depan kita semua.

“Hari Anak Nasional bukan sekadar perayaan, tapi panggilan hati untuk melihat mereka yang belum terlihat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *