Pertumbuhan Tinggi, Rakyat Menanti: Ke Mana Perikanan dan UMKM Maluku Utara?

Oleh: Prof. Rusman Soleman, S.E., M.Si., Ak.

Ketua ISEI Cabang Ternate, Koordinator Provinsi Maluku Utara

Maluku Utara sedang berada dalam sebuah paradoks pembangunan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi daerah tercatat sangat tinggi. Ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, dengan industri pengolahan dan hilirisasi menjadi salah satu penggerak utama.

Angka tersebut tentu patut diapresiasi. Pertumbuhan ekonomi adalah indikator penting yang menunjukkan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi.

Tetapi pembangunan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Berapa tinggi pertumbuhan ekonomi?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?”

Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Jika pertumbuhan terutama berasal dari sektor yang padat modal dan memiliki keterkaitan terbatas dengan ekonomi masyarakat lokal, maka PDRB dapat meningkat sangat cepat, sementara pendapatan sebagian masyarakat bergerak jauh lebih lambat.

Di sinilah nasib sektor perikanan dan UMKM Maluku Utara perlu mendapatkan perhatian.

Ketika PDRB Tumbuh, Ekonomi Rakyat Jangan Menunggu

Maluku Utara memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Selain mineral, provinsi kepulauan ini memiliki laut yang luas, perikanan, perkebunan, pertanian, pariwisata, dan ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Namun, struktur pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan industri pengolahan memiliki peran yang sangat besar.

Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan, termasuk memperkuat sektor-sektor alternatif di luar ekonomi ekstraktif.

Pertanyaannya kemudian sederhana:

Jika mesin pertumbuhan berada di sektor pertambangan dan industri pengolahan, bagaimana energi pertumbuhan itu mengalir kepada nelayan, petani, pedagang kecil, dan UMKM?

Inilah persoalan transmisi pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi baru memiliki makna pembangunan apabila menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan usaha, dan menurunkan kemiskinan.

Perikanan: Potensi Besar, Nilai Tambah Masih Kecil

Sebagai provinsi kepulauan, perikanan seharusnya menjadi salah satu sektor strategis Maluku Utara.

Namun, potensi perikanan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya ikan yang ditangkap.

Yang lebih penting adalah berapa nilai tambah yang tinggal di Maluku Utara.

Jika ikan ditangkap oleh nelayan lokal kemudian dijual dalam bentuk mentah, sementara proses pembekuan, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran dilakukan di daerah lain, maka sebagian besar nilai ekonomi justru dinikmati di luar daerah.

Karena itu, pembangunan perikanan harus bergerak dari produksi menuju industrialisasi berbasis nilai tambah.

Ikan dapat diolah menjadi fillet, ikan beku, ikan asap, abon, ikan kaleng, tepung ikan, minyak ikan, dan berbagai produk pangan lainnya.

Setiap tahap pengolahan menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Dan setiap aktivitas ekonomi baru berpotensi menciptakan lapangan kerja.

Ekonomi Biru sebagai Jalan Keluar

Di sinilah konsep ekonomi biru menjadi penting.

Ekonomi biru tidak berarti mengeksploitasi laut sebanyak-banyaknya.

Ekonomi biru adalah bagaimana laut menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.

Strateginya harus mencakup peningkatan produktivitas perikanan, penguatan nelayan, hilirisasi hasil laut, pembangunan cold chain, pengembangan budi daya, pariwisata bahari, jasa kelautan, serta penguatan UMKM pesisir.

Dengan demikian, laut tidak hanya menghasilkan ikan.

Laut menghasilkan nilai tambah.

Laut menghasilkan pekerjaan.

Laut menghasilkan usaha.

Dan pada akhirnya, laut menghasilkan kesejahteraan.

UMKM Jangan Hanya Menjadi Penonton

Hal yang sama berlaku bagi UMKM.

Ketika investasi besar masuk ke Maluku Utara, pemerintah harus memastikan bahwa pertumbuhan investasi tersebut menciptakan local economic linkage.

Perusahaan besar membutuhkan makanan, transportasi, jasa, penginapan, pakaian kerja, konstruksi, perawatan, logistik, pengemasan, dan berbagai barang serta jasa lainnya.

Pertanyaannya:

Berapa banyak kebutuhan tersebut yang dapat dipenuhi oleh UMKM Maluku Utara?

Jika sebagian besar kebutuhan industri justru dipasok dari luar daerah, maka terjadi kebocoran ekonomi.

Investasi memang masuk, PDRB meningkat, tetapi multiplier effect terhadap masyarakat lokal menjadi terbatas.

Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong perusahaan besar membangun kemitraan dengan UMKM lokal.

Bukan sekadar melalui program CSR, tetapi melalui rantai pasok yang nyata dan berkelanjutan.

Pemerintah Harus Mengubah Cara Melihat UMKM

UMKM jangan hanya diposisikan sebagai penerima bantuan.

UMKM harus dipandang sebagai aktor pembangunan ekonomi.

Karena itu, pemerintah perlu memperluas akses UMKM terhadap pembiayaan, teknologi, sertifikasi, pengemasan, digitalisasi, pemasaran, dan pengadaan barang pemerintah.

Yang lebih penting adalah membangun UMKM agar mampu masuk ke rantai pasok industri besar.

Misalnya, UMKM pangan lokal dapat memasok kebutuhan konsumsi pekerja industri.

UMKM transportasi dapat masuk dalam jasa logistik.

UMKM pengolahan hasil laut dapat menjadi pemasok industri makanan.

Dengan demikian, pertumbuhan industri besar menciptakan permintaan bagi ekonomi rakyat.

Pertumbuhan Harus Menciptakan Pekerjaan

Salah satu ukuran penting pembangunan bukan hanya pertumbuhan PDRB, tetapi elastisitas kesempatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi.

Jika ekonomi tumbuh sangat tinggi, tetapi penciptaan pekerjaan relatif terbatas, maka kita perlu bertanya apakah struktur pertumbuhan tersebut cukup inklusif.

Sektor-sektor seperti perikanan, pertanian, UMKM, dan pariwisata memiliki karakter berbeda dengan industri ekstraktif.

Sektor-sektor tersebut cenderung memiliki keterkaitan yang lebih dekat dengan rumah tangga masyarakat.

Karena itu, pembangunan tidak boleh hanya mengejar sektor dengan kontribusi PDRB terbesar.

Pemerintah juga harus memperhatikan sektor yang memiliki multiplier effect dan employment effect yang besar.

Dari Pertumbuhan Menuju Transformasi Ekonomi

Maluku Utara tidak harus memilih antara pertambangan dan perikanan.

Pertambangan dapat tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan.

Namun, daerah harus menggunakan momentum pertumbuhan tersebut untuk membangun diversifikasi ekonomi.

Pendapatan dan aktivitas ekonomi dari sektor yang sedang tumbuh harus digunakan untuk memperkuat pendidikan, keterampilan, infrastruktur, perikanan, pertanian, UMKM, pariwisata, dan inovasi.

Dengan demikian, ketika suatu hari sumber daya mineral mengalami penurunan, Maluku Utara tidak kehilangan mesin pertumbuhannya.

Inilah esensi transformasi struktural.

Dari ekonomi yang bergantung pada ekstraksi menuju ekonomi yang semakin berbasis nilai tambah, manusia, teknologi, dan keberlanjutan.

Saatnya Pemerintah Mengukur Siapa yang Menikmati Pertumbuhan

Ke depan, evaluasi pembangunan Maluku Utara tidak cukup hanya menggunakan indikator pertumbuhan ekonomi.

Kita perlu bertanya:

Berapa pendapatan nelayan meningkat?

Berapa UMKM baru yang tumbuh?

Berapa tenaga kerja lokal yang terserap?

Berapa produk lokal yang masuk rantai pasok industri?

Berapa nilai tambah hasil perikanan yang tinggal di daerah?

Berapa banyak usaha kecil yang naik kelas?

Dan yang paling penting:

Apakah kemiskinan benar-benar menurun?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita dari sekadar growth menuju development. Sebab, pertumbuhan ekonomi hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan manusia.

Rakyat Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton

Maluku Utara sedang memiliki momentum besar.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memberikan ruang fiskal dan peluang investasi yang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun fondasi ekonomi jangka panjang.

Jangan sampai daerah hanya menjadi tempat ekstraksi sumber daya, sementara masyarakat lokal menjadi penonton.

Jangan sampai ikan keluar dalam bentuk bahan mentah, sementara nilai tambah tercipta di luar daerah.

Jangan sampai UMKM hanya menerima pelatihan dan bantuan, tetapi tidak pernah menjadi bagian dari rantai pasok industri.

Dan jangan sampai kita terlalu bangga pada angka pertumbuhan, tetapi lupa bertanya kepada masyarakat:

“Apakah kehidupan Anda menjadi lebih baik?”

Karena ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi ekonomi tumbuh.

Tetapi seberapa luas manfaat pertumbuhan tersebut dirasakan masyarakat.

Maluku Utara membutuhkan pertumbuhan yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

Pertambangan dapat menjadi mesin pertumbuhan hari ini.

Tetapi perikanan, UMKM, pertanian, pariwisata, dan ekonomi biru harus dipersiapkan menjadi mesin kesejahteraan masa depan.

Pertumbuhan boleh tinggi. Tetapi rakyat tidak boleh terus menanti. Mereka harus menjadi bagian dari pertumbuhan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *